Jombang (beritajatim.com) – Di sebuah masjid yang terletak di jantung Pesantren Tebuireng Jombang, suasana penuh berkah terasa begitu kental pada Jumat, 20 Februari 2026. Ratusan santri, mengenakan pakaian putih dan peci hitam, berkumpul setelah menunaikan salat Jumat. Mereka duduk dengan rapi, siap mengikuti sebuah kajian yang membawa kedamaian di hati mereka.
Tak lama, suasana menjadi hening seiring dengan kedatangan KH Fahmi Amrullah, yang akrab disapa Gus Fahmi. Ketika Gus Fahmi memasuki masjid, ratusan santri secara serentak berdiri dengan penuh penghormatan, lalu menundukkan kepala sebagai tanda takzim. Gus Fahmi pun duduk di tempat yang telah disediakan, memulai pengajian yang dinanti-nantikan dengan penuh hikmah.
Salah satu santri muda, Rakai Ahimsa yang baru berusia 13 tahun, tampak sangat fokus. Dengan pena di tangan kanannya, ia menulis dan memberi makna pada kitab kuning yang dipegangnya.
Kitab itu, berjudul At-Tanbihat al-Wajibat, adalah karya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng. Rakai dengan sabar mengurai makna kitab yang ditulis dalam bahasa Arab dan pegon, menandakan betapa dalamnya ilmu yang ia resapi di usia muda.
Kajian tersebut membahas tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Gus Fahmi, dengan artikulasi yang jelas dan humor yang menghangatkan suasana, menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi harus dilakukan dengan penuh rasa hormat (ta’dzim) kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam kitab itu juga ditegaskan bahwa tidak ada larangan untuk merayakan Maulid selama dilakukan dengan tata krama yang baik dan bertujuan untuk mengingat perjuangan Rasulullah.
Seiring berjalannya waktu, jumlah santri yang mengikuti kajian semakin bertambah. Tidak hanya di dalam masjid, tetapi juga di gazebo, teras kediaman pengasuh, hingga di depan asrama, semua menyimak dengan penuh khidmat. Semua hadir dengan satu tujuan, yaitu mendapatkan ilmu yang bermanfaat di bulan Ramadan yang penuh berkah ini.

Pengajian kitab kuning di Pesantren Tebuireng memang telah menjadi tradisi yang rutin diadakan setiap bulan Ramadan. Selain At-Tanbihat al-Wajibat, kitab-kitab karya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari lainnya, seperti Hadzihi Risalah Jamiah Maqasid, Risalah Ahli Sunah Wal Jamaah, dan Irsyadul Mu’minin, turut dikaji.
Tak hanya itu, kajian kitab Nurudz Dzolam karya Syaikh Nawawi Al-Bantani juga menjadi bagian dari pembelajaran mereka. Sebagai tambahan, kajian kitab Shahih Bukhari juga rutin dilaksanakan di pesantren ini.
Tradisi membaca hadits ini sudah ada sejak Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH M Hasyim Asy’ari pada tahun 1899. Sebuah tradisi yang terus hidup dan berkembang, mengalirkan ilmu dari generasi ke generasi, menjaga warisan keilmuan Islam dengan penuh semangat dan dedikasi.
Di balik segala kebersamaan yang terjalin, tampak jelas bahwa semangat untuk belajar dan mengamalkan ilmu adalah inti dari setiap langkah santri di Tebuireng.
Di tengah hari yang terik, mereka tetap bertahan, duduk bersimpuh di berbagai sudut, demi mencari makna sejati dalam setiap kata yang disampaikan oleh guru mereka. Sebuah pemandangan yang mengharukan, menunjukkan betapa besar rasa cinta mereka terhadap ilmu dan agama. [suf]






