Surabaya (beritajatim.com) – Kasus Monkeypox (Mpox) dilaporkan mengalami lonjakan hingga pertengahan Agustus 2024. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat ada 88 kasus yang tersebar di berbagai wilayah.
Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Dr Kurnia Dwi Artanti mengatakan pentingnya status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) untuk meningkatkan kewaspadaan penyebaran wabah Mpox.
“PHEIC merupakan status yang menunjukkan tingkat keparahan situasi global. WHO menetapkan status ini karena melihat persebaran penyakit yang semakin meluas,” kata Kurnia, Selasa (27/8/2024).
Kurnia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kriteria yang dipertimbangkan terkait status PHEIC tersebut. Di antaranya penilaian risiko global yang jika tidak segera diantisipasi, dapat menyebabkan penyebaran lebih luas.
“Respons dan dukungan dari negara-negara anggota WHO juga menjadi faktor penting dalam mengendalikan penyebaran penyakit ini,” jelas Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair itu.
Kurnia menyebut, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko penyebaran Mpox. Di Indonesia, virus Mpox yang terdeteksi termasuk dalam varian IIb. Jenis ini dapat menyebar antarmanusia lewat kontak langsung cairan tubuh atau lesi.
Ia menyebut, pola penyebaran Mpox menunjukkan gejala yang mirip dengan cacar biasa. Menurutnya, gejala khas Mpox meliputi demam tinggi, ruam kulit yang khas, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Ruam yang muncul umumnya melalui wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh. Namun, perlu pemeriksaan spesifik untuk memastikan infeksi Mpox karena virus ini bersifat self-limited. “Artinya dapat sembuh dengan sendirinya jika sistem imun tubuh baik,” lanjutnya.
Menyikapi wabah Mpox, Kurnia menyarankan strategi pencegahan yang efektif untuk mengurangi penyebaran Mpox di Indonesia. Upaya mencegah transmisi virus Mpox, kata dia, dengan meningkatkan kesadaran diri pada masyarakat serta isolasi bagi individu yang terinfeksi.
Menurutnya, mencegah penularan Mpox sangat bergantung pada kebersihan diri. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di tempat umum serta menggunakan masker dapat menjadi benteng pertahanan yang efektif.
“WHO dan CDC merekomendasikan pemberian vaksin diprioritaskan terutama pada petugas laboratorium, tenaga kesehatan di RS rujukan dan populasi berisiko,” pungkasnya.
Sebagai informasi, WHO sendiri juga telah menyatakan status PHEIC untuk wabah Mpox ini. [ipl/beq]






