Mojokerto (beritajatim.com) – Mojogeneng, sebuah desa di Kabupaten Mojokerto yang punya kekhasan. Mojogeneng dijuluki sebagai Kampung Para Penghafal Al Qur’an.
Desa yang terletak di selatan Kabupaten Mojokerto memiliki tiga pondok pesantren (ponpes) yang berdiri saling berdekatan. Tiga ponpes tersebut mewajibkan para santrinya untuk menghafal Al Qur’an, bahkan sebagian warganya juga merupakan hafiz dan hafizah.
Mojogeneng masuk wilayah administrasi Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Desa dengan jumlah penduduk sebanyak 2.450 jiwa ini terdapat tiga ponpes yang terdiri dari 17 asrama.
Sebanyak 17 asrama tersebut dipimpin pengasuh yang berbeda. Dari 17 asrama tersebut setidaknya lebih dari 5.000 santri yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia ini mondok di Desa Mojogeneng. Mereka berbaur dengan warga sekitar, bahkan terdapat 110 warga yang juga hafiz dan hafizah.
Baca Juga:
Penjual Es Dawet di Mojokerto Ini Jual 250 Bungkus Setiap Hari
Kepala Desa (Kades) Mojogeneng, Tatag Sugianto mengatakan, sekitar tahun 1940 ada ulama besar pulang dari ponpes di Jombang datang ke Desa Mojogeneng. Ulama tersebut adalah KH Moh Yahdi Mathlab.
“Beliau merupakan santri dari mbah KH Hasyim Asy’ari. Beliau mendirikan satu pondok kecil di Desa Mojogeneng,” ungkapnya, Selasa (28/3/2023).
Keberhasilan dan keberkahan KH Moh Yahdi Mathlab mendirikan Ponpes Bidayatul Hidayah di Desa Mojogeneng tersebut menjadikan ponpes tersebut besar hingga saat ini. Selain banyaknya santri yang mondok di sejumlah ponpes di Desa Mojogeneng, lanjut Kades, warga Desa Mojogeneng juga banyak yang penghafal Al-Qur’an.

“Kenapa Desa Mojogeneng disebut sebagai Kampung Penghafal Al Qur’an? Di Kecamatan Jatirejo ini ada 150 penghafal Al Qur’an dan 110 di antaranya merupakan warga Desa Mojogeneng. Rata-rata warga penghafal Al Qur’an tersebut merupakan santri dari ponpes di Desa Mojogeneng sini,” katanya.
Kades menjelaskan, ada 17 asrama di Desa Mojogeneng memiliki program yakni santri sebagai penghafal Al Qur’an. Para santri tersebut tidak hanya berasal dari Kabupaten Mojokerto sendiri, namun juga dari berbagai daerah yang ada di seluruh pelosok Indonesia.
“Hampir merata, para santri ini datang dari penjuru Indonesia. Dari luar Jawa juga banyak. Kampung ini kayak di dalam pondok, di dalam kampung kayak di dalam pondok. Luar biasa,” jelasnya.
Baca Juga:
Track Baru KA Dipasang, Jalur Bypass Mojokerto Ditutup Total
Sementara itu, Pengasuh Asrama Darul Qur’an & Baytul Qur’an Ponpes Bidayatul Hidayah, KH Muhammad Fathoni Dimyathi Lc menambahkan, Desa Mojogeneng menjadi Desa Penghafal Al Qur’an. “Karena sejak puluhan tahun lalu, di sini tidak pernah sepi yang membaca Al Qur’an,” tambahnya.
Ini lantaran banyaknya penghafal Al Qur’an di Desa Mojogeneng. Warga khususnya ibu-ibu, bukan santri di Desa Mojogeneng merupakan penghafal Al Qur’an. Tahun 1983, KH Muhammad Fathoni Dimyathi Lc sendiri pernah dikirim ke Mekkah, Arab Saudi dan menang Juara II Musabaqah Hafalan Al-Qur’an (MHQ) Tingkat Internasional.
“Alhamdulillah saya bisa Juara II tingkat Internasional. Pada saat itu, masih baru Indonesia bisa menjuarai sehingga gaung daripada pondok Mojogeneng, Desa Mojogeneng ini dikenal luas. Akhirnya banyak yang datang ke sini untuk menghafalkan Al Qur’an,” tegasnya. [tin/beq]






