Mojokerto (beritajatim.com) – Es dawet di Indonesia banyak jenisnya. Di setiap daerah hampir punya sentuhan khas yang membuat sajian dawet atau cendolnya makin menggugah selera.
Seperti dawet milik Vivi (47) yang berada di Jalan Raya Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini.
Terletak di jalur alternatif Surabaya – Jombang membuat es dawet dengan resep turun temurun ini mudah dicari. Ditambah lokasi jualannya yang berada di pinggir jalan persis di depan Kantor Balai Desa Mlirip sehingga para pengendara bisa dengan mudah menemukannya.
Baca Juga: Untag Surabaya Dukung Desa Claket Mojokerto Jadi Desa Wisata Kuliner
Iya, Es Dawet Kudus Bu Sartini 99 namanya. Meski memakai nama Es Dawet Kudus, namun es dawet ibu dua anak ini isiannya tidak sama dengan es dawet Kudus pada umumnya. Ada tambahan bahan lainnya seperti tape ketan ireng, tape ketan singkong dan tentunya dawet dari tepung sagu.
Es Dawet Kudus Bu Sartini 99 pun kaya warna. Warna merah muda dari dawet yang terbuat dari sagu, hitam dari tape ketan hitam, kuning dari tape singkon dan putih dari susu dan santan. Es dawet aneka warna inipun akan mengunggah para pengendara untuk berhenti sekedar merasakan segarnya Es Dawet Kudus Bu Sartini 99.
Penjual Es Dawet Kudus Bu Sartini 99, Vivi (47) mengaku, berjualan es dawet di lokasi tersebut sejak almarhum sang nenBaca Juga:
[berita-terkait number=”2″ tag=”kuliner”]
Lokasi lapak jualannya sejak 25 tahun lalu pun tak berubah. Yakni di pinggir jalan alternatif Surabaya – Jombang tepatnya di depan Kantor Balai Desa Mlirip. Setiap harinya, ia dibantu sang adik, Leny melayani pelanggan es dawet yang ia jual dengan harga Rp5 ribu per bungkus tersebut.
“Sebelum bulan puasa, setiap hari habis sekitar 250 bungkus. Kalau awal puasa ini, masih sekitar Rp400 ribu sampai Rp500 ribu per harinya. Kalau hari biasa, ramainya pas Sabtu-Minggu. Ada yang bungkus 8 sampai 10 bungkus. Iya, pembeli tidak hanya dari Mojokerto. Ada dari Surabaya, Jombang,” katanya.
“Dawet dari tepung sagu ini, nenek saya bikin sendiri awalnya. Terus diajarkan ke ibu saya. Nenek sudah tidak ada, kalau ibu masih. Saya anak pertama, makanya diwariskan ke saya resepnya,” jelas warga Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ini.
Sementara sang adik, Leny menambahkan, es dawet warisan sang nenek tersebut banyak dicari pemburu takjil. “Iya alhamdulilah ramai, banyak yang beli buat takjil kalau pas puasa seperti ini. Kadang ada yang bungkus 8 sampai 10 bungkus, tidak tentu. Rasanya seger, enak cocok untuk takjil,” tambahnya. [tin/ted]







