Ponorogo (beritajatim.com) – Siang itu, aroma kopi hitam mengepul dari salah satu warung kopi di Jalan Menur, Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman, Ponorogo. Di warung yang dikenal bernama Wakoka itu, proses pembuatan kopinya masih sangat sederhana. Kopi ditumbuk sendiri dan air panasnya pun memasaknya masih menggunakan tungku kayu bakar. Alhasil, aroma khas kopi pedesaan pun masih lekat di warung tersebut.
Namun, tak disangka, balik cangkir-cangkir yang disajikan ke pelanggan, tersimpan cerita panjang tentang ketekunan dan keyakinan. Bukan sekadar jualan kopi, tetapi keinginan kuat untuk berangkat ke Tanah Suci, yang sudah dirintis sejak puluhan tahun lalu.
Adalah Wahyudi Gecol (61), sosok sederhana yang sejak 2004 menggantungkan hidup dari berjualan kopi. Setiap rupiah yang diterima, tak hanya untuk menyambung kebutuhan harian, tetapi juga disisihkan perlahan untuk satu tujuan besar, yakni menunaikan ibadah haji bersama istrinya.
“Naik haji ini memang dari hasil jualan kopi. Saya dan istri punya niat bulat untuk berangkat, jadi kami menabung sedikit demi sedikit,” ungkap Wahyudi, Minggu (12/4/2026).
Niat itu tak lahir dalam semalam. Keingan itu tumbuh, mengendap, lalu menguat seiring berjalannya waktu. Hingga pada 10 Oktober 2012, Wahyudi dan sang istri, Siti Setiana Wati (58), memberanikan diri mendaftar haji, setelah tabungan mereka cukup untuk setoran awal berangkat haji
“Saya selalu ingat, daftar tanggal 10 bulan 10 (Oktober-red) tahun 2012, ya saat itu memang tabungan kami cukup untuk setoral awal saja,” katanya.
Setelah daftar itu, Wahyudi malah termasuk yang getol untuk menyimpan hasil jaualan kopinya ditabung.Tiap bulan sekitar Rp500 ribu sampai akhirnya bisa lunas. Namun, yang nabung bukan hanya Wahyudi saja, istrinya pun juga. Siti punya cara berbeda dalam menjaga asa. Dia menabung diam-diam, dari sisa hasil jualan kopi harian, memasukkannya ke dalam kaleng biskuit yang disimpan rapat di rumah.
“Dulu saya menabung dari hasil jualan kopi tiap hari, dimasukkan ke kaleng. Kadang Rp10 ribu, kadang Rp50 ribu, tidak tentu,” ungkap Siti.
Recehan demi recehan itu dikumpulkan tanpa suara selama sekitar lima tahun. Bukan jumlahnya yang besar, melainkan konsistensinya yang menjadi kunci. Hingga akhirnya, tabungan tersembunyi itu cukup untuk menguatkan langkah mereka menuju pendaftaran haji.
“Itu saya lakukan sekitar lima tahun tanpa sepengetahuan suami. Alhamdulillah, setelah terkumpul bisa dipakai untuk tambah daftar haji,” tambahnya.
Sejak resmi terdaftar, pasangan ini kian disiplin. Mereka sepakat menyisihkan Rp500 ribu setiap bulan. Tidak besar, tetapi tak pernah terlewat. Dalam kesederhanaan itu, istiqomah menjadi fondasi utama.
[irp posts=”1495007″ ]
Perjalanan panjang itu tidak selalu mulus. Kabar konflik di Timur Tengah sempat menyelipkan rasa cemas di hati mereka. Namun, keyakinan lebih kuat daripada kekhawatiran.
“Sempat was-was karena ada kabar perang, tapi kami tetap bismillah saja. Insyaallah diberi kelancaran nantu,” kata Siti.
Kini, penantian itu mendekati ujungnya. Wahyudi dan Siti tercatat dalam kelompok terbang (kloter) 19 jemaah haji Kabupaten Ponorogo dan dijadwalkan berangkat pada 26 April 2026. Dari warung kopi sederhana, langkah mereka akan berlanjut ke Tanah Suci. Tentu sebuah perjalanan yang dibangun dari kesabaran, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus.
“Alhamdulillah sekarang sudah lunas semua. Dari jualan kopi, kebutuhan sehari-hari juga tetap bisa terpenuhi,” pungkas Wahyudi.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan, kisah ini seperti secangkir kopi hangat. Yaknisederhana, namun menyisakan rasa mendalam. Bahwa mimpi besar tak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari niat bulat dan ketekunan yang dijaga sepanjang waktu. [end/aje]






