Surabaya (beritajatim.com) – Mengalami bulan Desember tentu kita akan diingatkan pada peringatan HIV/AIDS. Hampir sama dengan covid, penyakit ini sempat viral dan banyak ditakuti. Namun, hingga saat ini masih ada beberapa mitos dan kesalahpahaman yang dipercaya beberapa orang.
Sesuatu hal yang keliru tentang penyakit ini justru dapat mendorong perilaku yang menyebabkan banyak orang terjangkit HIV. Saatnya untuk mengungkapkan mitos mengenai HIV dan AIDS sehingga menghilangkan stigma negatif pada pengidapnya supaya mereka mendapatkan pengobatan.
Penularan HIV dan AIDS lewat gigitan nyamuk
Sebenarnya, HIV memang ditularkan melalui darah, tapi belum ada bukti medis yang menunjukkan jika gigitan nyamuk bisa menjadi perantara penyebaran virus HIV pada tempat yang rawan HIV dan banyak nyamuk.
Ketika nyamuk berpindah lokasi gigit, tentu saja mereka tidak mengalirkan darah milik orang yang menjadi mangsa. Bukan hanya itu, virus HIV dalam serangga ternyata tidak akan bertahan lama.
HIV/AIDS dianggap penyakit khusus gay dan pemakai narkoba
Faktanya, Pria gay dan orang-orang penasun (pengguna narkotika suntik) dapat dikatakan sebagai golongan yang rentan terkena HIV/AIDS.
Hal ini dikarenakan hubungan intim sesama jenis melalui seks anal dan pemakaian jarum suntik narkoba secara bergantian adalah penyebab HIV.
Namun, seks vaginal (penetrasi penis-vagina) tanpa kondom ada kemungkinan terjadi penularan HIV dengan angka kejadian yang cukup tinggi.
Meskipun, seks oral tergolong faktor risiko penularan infeksi HIV. Tapi, infeksi HIV terjadi pada golongan heteroseksual. Selain itu, penderita HIV/AIDS di Indonesia paling banyak justru berasal dari kelompok ibu adalah rumah tangga dan pekerja dari kantoran, wirausaha, maupun tenaga medis, Tapi, tetap saja seks anal tetap memiliki risiko infeksi HIV paling tinggi dibandingkan metode seksual lain.
HIV/ AIDS tidak bisa sembuh
Bicara mengenai obat penawar HIV AIDS yang tersedia adalah pengobatan antiretroviral yang berperan dalam menekan perkembangan penyakitnya, mencegah penularan, dan mengurangi risiko kematian akibat komplikasi HIV/AIDS. Ketika sudah melakukan semua dengan rutin dan tepat, maka ada kemungkinan jika HIV.AIDS akan sembuh. [prd/bjo]






