Mojokerto (beritajatim.com) – Candi Minak Jinggo terletak di Dusun Unggah-unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Nama Minak Jinggo berasal dari temukan arca raksasa bersayap yang dikenal masyarakat dengan nama Minak Jinggo (Menak Jingga).
Sebagai upaya pelindungan arca raksasa bersayap atau Wilmana serta arca kinara atau kinari dan beberapa relief yang menggambarkan aktivitas sehari-hari, relief pola permukiman serta relief lansekap pedesaan tersebut disimpan di Pusat Informasi Majapahit (PIM).
Yakni di barat daya dari Kolam Segaran. Struktur Candi Minak Jinggo merupakan satu-satunya struktur bangunan candi di wilayah Trowulan yang bahan utamanya batuan andesit selain batu bata. Saat ditemukan, candi dalam kondisi tidak utuh lagi, ini digambarkan oleh Captain Johannes Willem Bartholomeus Wardenaar.
Saat ia mendapat tugas dari Raffles untuk mengadakan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto yang dicantumkan dalam buku ‘History of Java’ (1817). Saat itu yang tergambar berupa sisa dari bangunan candi, berupa struktur dasar candi, yang terdiri dari batu berelief dan dua relief yang berukuran besar.
Salah satunya menggambarkan seorang wanita berbadan seperti ikan dan yang satunya menggambarkan raksasa bersayap (tokoh garuda). Dalam catatan Belanda, candi ini dahulu oleh masyarakat disebut ‘Sanggar Pamalangan’. Sedangkan arca raksasa bersayap dikenal masyarakat dengan nama Minak Jinggo (Menak Jingga).
Candi Minak Jinggo merupakan sebuah candi yang di dalamnya terdapat struktur bata, dan blok-blok batu candi baik yang keadaannya polos maupun bermotif. Struktur bata yang ada sebagian besar terlihat melalui kotak-kotak ekskavasi yang pernah dilakukan di sana. Pada tahun 1977 pada candi ini pernah dilakukan penggalian percobaan selama 10 bulan.

Hasil ditemukan tiga lapisan pondasi. Pondasi yang paling atas susunannya tidak beraturan dan arahnya juga berbeda dengan lapisan pondasi di bawahnya, yaitu pasangan batanya spesi tanah. Sedangkan lapisan paling bawah berupa susunan bata dengan sistem gosok, berdenah persegi panjang dengan penampil di sebelah barat.
Kemudian pada tahun 2007, 2008, dan 2010, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, red) melakukan pemugaran dengan membuka struktur bata yang masih terpendam tanah. Bentuk struktur Candi Minak Jinggo diperkirakan berdenah persegi panjang, melintang barat-timur berada di sisi utara halaman.
Sedangkan halaman sisi selatan diperkirakan tidak ada struktur. Berupa halaman tanah datar, yang telah tampak saat ini diperkirakan berupa struktur bangunan utama yang dikelilingi oleh pagar. Pagar keliling ini terbuat dari susunan bata berspesi tanah berdenah persegi empat berukuran 22 x 23 meter, pintu masuk ke dalam pagar belum diketahui dengan pasti.
Tetapi diperkirakan dari arah barat karena di sebagian dinding pagar sisi barat ditemukan adanya profil yang menjorok ke barat (ke luar) dan timur (ke dalam) diperkirakan bekas trap tangga tetapi telah rusak. Upaya pelestarian yang dilakukan terhadap Candi Minak Jinggo adalah dengan melakukan pencatatan.
Yakni melalui kegiatan inventarisasi, melakukan kegiatan pemugaran, konservasi secara berkala, pelindungan berupa pembuatan cungkup dan menempatkan juru pelihara. Upaya pelindungan hukum juga sudah dilakukan dengan menetapkan Candi Minak Jinggo sebagai cagar budaya sejak 21 Juli 1998.
Arkeolog Andi Muhammad Said dalam kanal Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mengatakan, Candi Minak Jinggo ditemukan struktur bata cukup besar dan batu andesit berserakan. “Sebagian besar dikumpulin di sekitar sini, ada juga yang dibawa ke Pusat Informasi Majapahit untuk diamankan sementara,” ungkapnya.

Temuan batu andesit tersebut diamankan dan diregister oleh Balai pelestarian Kebudayaan Wilayah XI. Sehingga jika akan dilakukan rekontruksi maka sudah ada susunan percobaan. Untuk keamanan sehingga potongan batu andesit tersebut saat ini disimpan di Pusat Informasi Majapahit (PIM) Trowulan.
Arkeolog Ismail Lutfi menjelaskan, tidak ada data asli dari bangunan Jawa Kuno karena Candi Minak Jinggo tidak ada dalam naskah maupun prasasti. “Masyarakat sudah memberikan nama sendiri untuk bangunan ini, dengan sebutan Candi Minak Jinggo. Minak Jinggo berasal dari dua kata,” jelasnya.
Baca juga:
Candi Tikus Trowulan Mojokerto, Bangunan Petirtaan Majapahit
Minak atau Menak adalah bangsawan dan Jinggo atau Jingga adalah warna merah. Tokoh bangsawan yang digambarkan berwarna merah khususnya pada bagian muka, lanjut Lutfi, pada masyarakat Jawa dikaitkan dengan tokoh Raja Blambangan. Di ujung timur Pulau Jawa yakni Raja Blambangan, Minak Jinggo.
“Kita tidak tahu apakah ada hubungan nama itu dengan banyuwangi sendiri tetapi itulah nama yang dipilih oleh masyarakat. Salah satu informasi yang perlu ditelusi kenapa diberi nama Minak Jinggo, terkait dengan adanya arterfak ikornografi yang ada di candi ini, dimana dia dianggap sebagai sosok Raja Minak Jinggo itu sendiri,” katanya.
Arca yang ditemukan adalah raksasa. Dari asrsitektur Candi Minak Jinggo, lanjut Lutfi, pada bangunan pertama disusun berdasarkan bahan batu bata dikombinasikan dengan batu andesit untuk bagian luar karena dibutuhkan hadirnya ornamen.
“Ada hal yang wajar dan umum kombinasi penggunaan bata dan batu andesit dalam satu bangunan masa Hindu-Budha. Dari batu andesit berorname tersebut didapat relief yang tinggi, sosok tersebut berupa makhluk seperti burung mirip garuda tetapi penampilannya menggerikan. Iya binatang mitologi,” ujarnya.

Dalam mitologi Hindu dan pewayangan, lanjut Lutfi, dikenal kendaraan para dewa berupa makhluk bersayap yang bisa terbang namun bukan Garuda. Yakni Wilmana yakni raksasa yang diperuntukan saat perang atau kendaraan perang. Di Candi Minak Jinggo banyak ditemukab relief menunjukan adanya cerita Tantri atau cerita binatang.
“Mirip di Candi Penataran. Posisi bangunan terdapat struktur bata berlapis-lapis, dahulu pernah mengalami perluasan dan sisa struktur bata yang di barat, pernah dinaungi atap. Ada pilar bata berfungsi sebagai umpak untuk pilar tiang. Saat ini tinggal 4, bangunan ini ditopang atap tidak langsung,” tuturnya.
Selain itu ada balok batu putih. Hal itu mengingatkan pada beberapa candi di sekitar Trowulan, seperti di Situs Kumitir, Situs Klinterejo. Sehingga bisa disimpulkan bangunan suci di Trowulan secara umum tidak selalu bata, batu namun juga kombinasi batu putih. Dari sisi artistik, relief di batu putih akan lebih hidup sifatnya.
“Wilmana ada di PIM. Kami (arkeolog), makhluk bersayap ini bukan manusia tapi wahana dari dewa. Mengacu ke raja siapa yang dikaitkan dengan Minak Jinggo. Kita hanya punya data yang kuat jika candi ini era Majapahit tapi tahun kapan, belum mendapatkan data,” lanjutnya.
Meskipun diakui banyak candi di masa Majapahit dilengkapi dengan angka tahun, namun tidak di Candi Minak Jinggo. Dari sisi pelestarian, Candi Minak Jinggo sudah memiliki atap sehingga tidak terkena panas dan hujan secara langsung. [tin/ted]






