Jakarta(beritajatim.com)- Masa mudik dan balikilustrasi i Lebaran 2026 jutaan pemudik mulai bergerak kembali ke kota asal dalam arus balik yang diprediksi masih padat dalam beberapa hari ke depan.
Di tengah tingginya mobilitas masyarakat, data dari Korlantas Polri bersama Jasa Raharja menunjukkan adanya penurunan angka kecelakaan lalu lintas dibanding tahun sebelumnya, meski jumlah kejadian masih tergolong tinggi.
Ribuan Kecelakaan Terjadi Selama Mudik 2026
Selama periode Siaga Lebaran pada 13–22 Maret 2026, tercatat sebanyak 2.119 kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia. Dari kejadian tersebut, total korban mencapai 3.597 orang.
Dari jumlah itu, sebanyak 190 orang dilaporkan meninggal dunia. Angka ini menunjukkan bahwa risiko perjalanan selama musim mudik masih menjadi perhatian serius, terutama di jalur-jalur padat.
Polri Klaim Ada Penurunan Signifikan
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa secara umum terjadi penurunan angka kecelakaan sebesar 3,23 persen dibandingkan periode mudik tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, angka fatalitas atau korban meninggal dunia juga mengalami penurunan cukup signifikan, yakni mencapai 24,61 persen dibandingkan Operasi Ketupat 2025.
Penurunan ini menjadi indikator adanya perbaikan dalam pengelolaan arus mudik tahun ini.
Strategi Lalu Lintas dan WFA Dinilai Efektif
Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, mengungkapkan bahwa penurunan angka kecelakaan tidak terjadi secara kebetulan. Ada sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini.
Salah satunya adalah penguatan manajemen rekayasa lalu lintas oleh Korlantas Polri, termasuk pengaturan arus kendaraan yang lebih merata.
Selain itu, kebijakan work from anywhere (WFA) yang diterapkan pemerintah sebelum masa mudik juga dinilai membantu mengurangi kepadatan secara signifikan.
Dengan adanya fleksibilitas waktu perjalanan, pemudik tidak menumpuk pada satu waktu tertentu.
Transportasi Umum Masih Jadi PR Besar
Meski angka kecelakaan menurun, pengamat transportasi Djoko Setijowarno dari Universitas Katolik Soegijapranata menilai masih ada persoalan mendasar yang perlu dibenahi.
Ia menyoroti minimnya integrasi transportasi massal di daerah tujuan mudik. Kondisi ini membuat masyarakat tetap bergantung pada kendaraan pribadi.
Menurutnya, keberhasilan mudik tidak hanya diukur dari kelancaran lalu lintas, tetapi juga dari tingkat penggunaan transportasi umum.
Tanpa konektivitas yang memadai di titik akhir perjalanan (last mile), kendaraan pribadi akan tetap menjadi pilihan utama masyarakat karena dinilai lebih praktis.
Arus Balik Perlu Diantisipasi
Dengan dimulainya arus balik, masyarakat diimbau tetap waspada dan mematuhi aturan lalu lintas. Pemerintah dan aparat juga diharapkan terus mengoptimalkan strategi pengamanan demi menekan angka kecelakaan.
Momentum Lebaran bukan hanya tentang pulang kampung, tetapi juga tentang memastikan perjalanan berlangsung aman hingga kembali ke kota tujuan. [aje]






