Mojokerto (beritajatim.com) – Sinar matahari siang itu menyusup lembut melalui jendela Rumah Singgah Al-Hidayah Mojokerto. Di ruangan sederhana yang hangat dan penuh kehidupan, para peserta duduk melingkar sambil memegang manik-manik warna-warni. Ada yang memegang dengan hati-hati, beberapa tampak ragu, dan sebagian lainnya mulai meronce perlahan seolah sedang merangkai kembali harapan yang sempat tercerai.
Bagi kebanyakan orang, meronce hanyalah aktivitas seni kriya biasa. Namun bagi penyandang disabilitas psikososial, kegiatan itu justru menjadi jembatan pemulihan setelah masa perawatan di rumah sakit jiwa. Inilah yang menjadi inti program pengabdian masyarakat bertajuk “Merangkai Harapan: Program Terapi Meronce untuk Pemulihan Penyandang Disabilitas Psikososial di Rumah Singgah Al-Hidayah”.
Rumah Singgah Al-Hidayah, yang berada di gang kecil Desa Pesanggrahan, Mojokerto, tidak tampak seperti fasilitas kesehatan formal. Tidak ada pagar tinggi, tidak ada gedung megah hanya rumah sederhana yang menjadi tempat singgah bagi mereka yang baru selesai masa rawat inap, sebelum kembali ke masyarakat.
Para peserta datang dengan latar belakang berbeda: ada yang kehilangan struktur hidup, ada yang terpisah dari keluarga, hingga mereka yang masih takut kembali ke lingkungan sosial. “Satu hal yang pasti, semuanya sedang berproses untuk kembali stabil,” ujar seorang pengelola.
Momentum kegiatan semakin istimewa karena bertepatan dengan kunjungan International Community Development dari Fakultas Kedokteran ITS bersama Queensland University of Technology (QUT), Australia. Total 16 mahasiswa 5 dari ITS dan 11 dari QUT, turut hadir sejak sesi pembukaan memberi nuansa global di ruang yang sederhana itu.
Prof. Dr. AH. Yusuf S., S.Kp., M.Kes., pengelola rumah singgah, menjelaskan kepada para mahasiswa internasional bahwa pendekatan yang digunakan adalah perpaduan aspek kognitif, perilaku, dan spiritual. “Itu yang menjadi fondasi ketenangan di sini,” jelasnya.
Begitu sesi meronce dimulai, suasana ruangan berubah menjadi hening penuh konsentrasi. Manik-manik kecil mulai bertemu dengan tali elastis, dan setiap peserta terlihat larut dalam prosesnya. Bagi sebagian, aktivitas repetitif ini membantu menenangkan pikiran dan mengalihkan kecemasan.
“Dengan meronce, kita tidak hanya melatih motorik halus, tapi juga membantu mereka menenangkan pikiran, mengatur emosi, dan kembali percaya pada kemampuan diri sendiri,” kata salah satu fasilitator.
Kegiatan kelompok ini juga membantu peserta yang cenderung menarik diri untuk mulai membuka percakapan. Senyum, tawa kecil, dan interaksi hangat antara peserta dan mahasiswa pendamping tumbuh dengan alami.
Salah satu peserta sebut saja R, awalnya tampak gelisah. Tangannya bergetar ketika menyentuh manik. Namun perlahan ia mulai nyaman dan berhasil membuat gelang pertamanya. Dengan malu-malu ia mengangkat hasil ronceannya sambil berkata, “Ini… untuk ibu.”
Momen itu membuat beberapa mahasiswa terdiam sejenak. “This is more than just community service. It’s humanity in the simplest form,” ujar seorang mahasiswa QUT.
Hasil karya yang dibawa pulang peserta bukan sekadar gelang atau aksesoris. Dalam pendekatan rehabilitasi psikososial, sebuah karya konkret melambangkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan sesuatu dari awal hingga akhir—sesuatu yang sering kali terasa sulit dalam kondisi mental yang tidak stabil.
“Kegiatan ini membantu mereka menemukan ritme baru untuk menata hidup. Sederhana, tapi dampaknya besar,” ungkap salah satu caregiver Rumah Singgah Al-Hidayah.
Saat sesi berakhir dan senja mulai turun, beberapa peserta masih menggenggam erat hasil ronceannya. Ada yang melambaikan tangan kepada mahasiswa internasional, seolah pertemuan singkat itu meninggalkan jejak penting dalam proses pemulihan mereka.
Kegiatan terapi meronce di Rumah Singgah Al-Hidayah Mojokerto menjadi bukti bahwa pemulihan tidak selalu datang dari obat atau terapi formal. Kadang, ia tumbuh dari aktivitas sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dan pendampingan penuh empati.
Di tempat ini, meronce bukan hanya menyusun manik menjadi bentuk indah—tetapi juga menyusun ulang kepercayaan diri, merajut harapan baru, dan membuka jalan pulang bagi penyandang disabilitas psikososial untuk kembali menjalani hidup yang lebih stabil. (aga/ted)






