Malang (beritajatim.com) – Masalah pengelolaan sampah di wilayah hilir yang kerap memicu pembengkakan biaya operasional mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Guna mengatasi persoalan tersebut, Tim Hibah Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) melalui skema BIMA menggelar program strategis di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
Program pengabdian masyarakat bertajuk “Menuju Desa Nol Sampah: Strategi Dekarbonisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular” ini resmi dibuka pada Jumat (19/6/2026) di Balai Desa Ngabab.
Ketua Tim Hibah PBW, Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU., ASEAN Eng. dari Universitas Brawijaya mengungkapkan, inisiatif ini dirancang sebagai program tahun jamak yang diproyeksikan berjalan selama tiga tahun ke depan.
Fokus utamanya adalah mewujudkan kemandirian pengelolaan sampah dari sumbernya melalui skema ekonomi sirkular. Pihaknya ingin menuju desa nol sampah melalui strategi dekarbonisasi.
“Untuk mencapainya, ada empat tahapan pelatihan yang kami siapkan. Pertama adalah pembuatan MOL (Mikroorganisme Lokal) dan eco enzyme, kedua budidaya maggot BSF, ketiga vermikomposting karena potensi peternakan di sini sangat besar, dan yang terakhir adalah manajemen usaha serta pemasaran,” ujar Dr. Rita Parmawati kepada beritajatim.com, Jumat (19/6/2026).
Rita menambahkan, program ini melibatkan 30 warga setempat yang terdiri atas petugas Tempat Pengolahan Sampah (TPS), ibu rumah tangga, dan pemuda desa untuk dicetak sebagai kader lingkungan. Produk turunan dari pelatihan ini, seperti pelet ikan dari maggot, pupuk kompos dari metode vermi, hingga sabun cuci dan pembersih lantai dari eco enzyme, nantinya akan dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Hasil pengelolaan BUMDes itu diharapkan dapat mendongkrak ekonomi warga. Rita menjelaskan, Desa Ngabab dipilih lantaran lokasinya yang sangat jauh dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kabupaten Malang, sehingga volume sampah yang terangkut selama ini hanya berkisar 5 persen.
“Harapan kami dan Kepala Dinas, Desa Ngabab bisa menjadi percontohan pertama Desa Nol Sampah di Kabupaten Malang,” imbuh pakar eco enzyme tersebut.
Dalam menjalankan program lintas disiplin ilmu ini, Dr. Rita didukung oleh anggota tim ahli lainnya, yakni Fajri Anugroho, S.TP., M.Agr., Ph.D. (UB) di bidang vermikomposting, Yasa Palaguna Umar, S.TP., M.Sc., Ph.D. (UB) yang mendesain mesin pencacah sampah sekaligus mengisi materi pengenalan maggot BSF, serta Demmy Filsafa Ratna Putra, S.P., M.P. dari Universitas Kahuripan Kediri yang akan memberi materi manajemen pemasaran.
Kegiatan ini juga melibatkan partisipasi aktif dari lima mahasiswa S1 MTP, satu mahasiswa Fakultas Pertanian UB, tiga mahasiswa S2, dan satu mahasiswa S3. Tim ini juga menggandeng Perhutani untuk penyerapan produk hilir.
Langkah sivitas akademika ini mendapat apresiasi penuh dari Pemerintah Kabupaten Malang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Dr. Ahmad Dzulfikar Nurrahman, S.T., M.T., menegaskan bahwa pengurangan sampah di tingkat hulu atau skala rumah tangga secara signifikan akan memotong beban biaya pengolahan di TPA.
“Ada trade-off atau pengalihan anggaran. Pembiayaan yang biasanya besar di TPA bisa kita geser ke masyarakat agar pengelolaan di hulunya lebih maksimal. Mencegah sampah menumpuk jauh lebih menguntungkan daripada mengelolanya setelah sampai di TPA. Konsepnya seperti mencegah sakit,” terang Dr. Ahmad Dzulfikar.
Menurut Ahmad Dzulfikar, Kecamatan Pujon memang sudah saatnya beralih dari sistem pengelolaan sampah konvensional karena jarak angkut ke TPA Edukasi Talangagung maupun TPA Paras yang terlampau jauh. Pihak DLH kini telah mematangkan roadmap pengolahan sampah mandiri agar wilayah Pujon tidak lagi mengirimkan residu ke TPA.
Di lokasi yang sama, Kepala Desa Ngabab, Amin Afandi, menyambut baik inovasi pemanfaatan limbah sayur dan buah menjadi produk bernilai guna tinggi ini. Menurutnya, program ini sejalan dengan agenda lingkungan hidup yang tengah dirintis pihak desa.
“Sampah ini isu internasional. Dengan pelatihan ini, sampah diolah menjadi berkah dan ekonomi warga bergerak. Kami dari pemerintah desa siap memberikan dukungan penuh terhadap fasilitas dan kebutuhan yang diperlukan. Selama ini desa mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit hanya untuk menampung sampah tanpa diolah. Kehadiran tim UB ini menjadi jawaban bagi kami,” tegas Amin Afandi.
Dampak positif program ini juga langsung dirasakan oleh masyarakat akar rumput. Baharuddin, salah seorang warga Desa Ngabab yang ikut serta dalam pelatihan, mengaku optimistis terhadap keberlanjutan program dekarbonisasi ini.
“Ini sangat membantu warga desa. Selain kami bisa mengatasi masalah sampah dalam jangka panjang, kegiatan ini juga bisa melatih kemandirian ekonomi masyarakat di desa kami untuk tambah-tambah pendapatan rumah tangga,” pungkas Baharuddin. (dan/kun)






