Ringkasan Berita:
- RS Siloam Surabaya resmi mengoperasikan teknologi LINAC dan CT Simulator untuk layanan radioterapi kanker.
- Teknologi baru memungkinkan terapi radiasi lebih presisi dengan perlindungan lebih baik terhadap jaringan sehat.
- Fasilitas ini diharapkan memperluas akses pasien kanker di Jawa Timur tanpa harus berobat ke luar daerah.
- Radioterapi menjadi salah satu pilar utama penanganan kanker bersama operasi dan kemoterapi.
Surabaya (beritajatim.com) – Rumah Sakit (RS) Siloam Surabaya resmi mengoperasikan fasilitas Linear Accelerator (LINAC) dan CT Simulator sebagai penguatan layanan radioterapi kanker yang lebih presisi, modern, dan terintegrasi. Kehadiran dua teknologi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pengobatan kanker bagi masyarakat Jawa Timur dan sekitarnya.
LINAC dan CT Simulator memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam proses radioterapi. CT Simulator digunakan untuk memetakan lokasi, ukuran, dan bentuk tumor secara detail melalui pencitraan tiga dimensi, sedangkan LINAC berfungsi menghancurkan sel kanker menggunakan pancaran sinar-X berenergi tinggi dengan tingkat akurasi yang sangat presisi.
Pengoperasian fasilitas radioterapi ini sekaligus menjawab kebutuhan layanan kanker yang terus meningkat di Indonesia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, terdapat lebih dari 408 ribu kasus kanker baru dengan sekitar 242 ribu kematian akibat kanker setiap tahunnya di Indonesia. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya ketersediaan fasilitas diagnosis dan terapi modern agar pasien memperoleh penanganan secara cepat dan optimal.
Direktur RS Siloam Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, Sp.PK., mengatakan pengoperasian LINAC dan CT Simulator merupakan bentuk komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kanker yang komprehensif dengan mengutamakan kebutuhan pasien.
“Dalam penanganan kanker, waktu memiliki peran yang sangat penting; kehadiran LINAC dan CT Simulator memungkinkan pasien memperoleh terapi yang lebih cepat, lebih presisi, dan lebih dekat dengan keluarga mereka. Bagi kami, teknologi bukan hanya tentang inovasi, tetapi tentang memberikan harapan yang lebih besar bagi pasien untuk mempertahankan kualitas hidupnya,” ujar dr. Maria, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, keberadaan layanan radioterapi modern di Surabaya diharapkan mampu mengurangi kebutuhan pasien untuk menjalani pengobatan ke luar daerah sehingga proses terapi dapat dilakukan lebih nyaman dengan dukungan keluarga yang tetap optimal.
Dokter Spesialis Onkologi Radiasi RS Siloam Surabaya, dr. Dyah Erawati, Sp.Rad., Sp.Onk.Rad.(K), menjelaskan radioterapi merupakan salah satu pilar utama pengobatan kanker selain operasi dan kemoterapi.
“Radioterapi adalah bagian dari pengobatan kanker yang dapat dikombinasikan dengan operasi maupun kemoterapi. Semua tergantung pada stadium penyakit dan tujuan terapinya, apakah untuk penyembuhan atau paliatif,” jelas dr. Dyah.
Ia menerangkan radioterapi dapat diberikan pada berbagai stadium kanker. Pada stadium awal hingga menengah, terapi umumnya bertujuan untuk penyembuhan (kuratif). Sementara pada stadium lanjut, radioterapi lebih diarahkan untuk mengurangi gejala sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
Menurut dr. Dyah, perkembangan teknologi radioterapi saat ini memungkinkan pemberian terapi yang semakin tepat sasaran dengan meminimalkan paparan radiasi terhadap jaringan sehat di sekitar tumor.
“Perkembangan teknologi radioterapi saat ini memberikan peluang yang semakin besar untuk terapi yang lebih tepat sasaran dengan meminimalisir paparan pada jaringan sehat di sekitar area target. Dengan dukungan LINAC dan CT Simulator, proses perencanaan dan pemberian terapi dapat dilakukan secara lebih optimal sehingga membantu meningkatkan kualitas penanganan pasien kanker,” paparnya.
LINAC yang kini dioperasikan RS Siloam Surabaya mampu menghasilkan pancaran sinar-X berenergi tinggi dengan tingkat presisi hingga 0,5 milimeter. Tingkat akurasi tersebut memungkinkan radiasi difokuskan pada jaringan kanker sehingga organ sehat di sekitarnya dapat terlindungi lebih baik dibandingkan teknologi generasi sebelumnya.
Sementara CT Simulator berperan penting pada tahap perencanaan terapi dengan menghasilkan pencitraan anatomi pasien secara rinci sehingga dokter dapat menentukan area penyinaran secara lebih akurat.
“Dengan teknologi yang sekarang kami miliki, presisi radiasi menjadi lebih baik dan organ di sekitar target dapat lebih terlindungi,” tegas dr. Dyah.
Ia menambahkan, proses penyinaran menggunakan LINAC berlangsung relatif singkat, sekitar tiga hingga sepuluh menit. Sementara keseluruhan proses dalam satu sesi, termasuk persiapan pasien, rata-rata memerlukan waktu sekitar 20 menit.
“Dosis radiasi diberikan secara bertahap sesuai kebutuhan pasien, umumnya satu kali sehari selama lima hari dalam sepekan. Namun, jumlah dan frekuensi terapi berbeda pada setiap pasien tergantung jenis kanker, stadium, serta tujuan pengobatannya,” jelasnya.
Layanan radioterapi tersebut juga didukung tim multidisiplin yang terdiri atas dokter spesialis, fisikawan medis, radiografer, serta tenaga kesehatan terlatih agar setiap pasien memperoleh penanganan sesuai standar terapi kanker modern.
“Kami memiliki tim multidisiplin, dokter spesialis dan tenaga kesehatan terlatih tentunya,” pungkas dr. Dyah. [rma/beq]






