Malang (beritajatim.com) – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji memastikan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) harus berjalan maksimal termasuk di Kota Malang.
Di Kota Malang, Wihaji membagikan sejumlah bantuan kepada warga Kota Malang salah satunya jamban sehat hasil kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Malang bersama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kota Malang.
“Selaras dengan kedatangan Pak Mentri, jalur kerja sama Pentahelix kami Kadin Kota Malang dan HIPMI ikut membantu program kementrian dan bersumbangsih agar program Genting dan sukses,” ujar Ketua Kadin Kota Malang, Djoko Prihatin.
Pria yang juga menjadi legislator di Kota Malang ini menilai wilayahnya masih perlu perhatian khususnya soal sanitasi. Dia bahkan mengungkapkan akan melakukan renovasi di 10 titik sanitasi dengan nilai Rp50 juta.
“Jadi sanitasi ini sangat penting, masih banyak di Kota Malang yang membutuhkan itu. Kita serahkan bantuan tadi ada 10 titik sanitasi yang akan di renovasi dengan nilai Rp50 juta,” ujar Djoko.
Sementara Wihaji mengatakan kementeriannya sudah bekerjasama dengan 6 kementerian lainnya dalam membuat Tamasya. Disisi lain dia juga terus mengajak setiap tempat usaha mengimplementasikan program Tamasya dengan menyiapkan layanan pengasuhan bagi anak para pekerja.
“Saya sudah bekerja sama dengan enam kementerian untuk membuat Taman Asuh Sayang Anak. Saya meminta untuk disiapkan sarana untuk Tamasya, terutama di pabrik yang pekerjanya banyak perempuan,” ujar Wihaji di Mini Blok Office di Kota Malang, Selasa, (12/8/2025).
Tujuan program Tamasya diterapkan di perusahaan demi memastikan setiap anak tetap mendapatkan pola pengasuhan yang layak dengan pengawasan langsung orangtua. Sehingga Tamasya ini serupa dengan fasilitas penitipan anak yang konsepnya sama dengan fasilitas day care disejumlah daerah.
Para pengasuh yang disiapkan untuk mengoperasikan tempat penitipan anak Tamasya akan terlebih dahulu mengikuti program sertifikasi dari pemerintah. Sehingga Tamasya membuat orangtua lebih tenang. “Sama (seperti day care). Untuk itu (sertifikasi) supaya memastikan tidak ada masalah,” ujar dia.
Disisi lain, Tamasya juga bagian dari menghindari pasangan yang memutuskan enggan memiliki anak atau child free. Data yang dia punya menyebut sebanyak 71 ribu perempuan. Tamsya dianggap sebagai salah satu solusi. Karena salah satu faktor child free adalah maslah ekonomi. Tamsya dibuat agar para ibu tetap bekerja sedangkan anak mendapat pola asuh yang layak.
“Saya menghormati keinginan sebagian dari mereka, tapi saya selaku menteri harus hadir memberikan solusi, maka jawabannya adalah dengan program Tamasya,” ujar Wihaji. (luc/kun)






