Surabaya (beritajatim.com) – Mantan Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Nasih yang juga merupakan pengamat ekonomi memiliki sejumlah harapan kepada Menteri Keuangan yang baru saja dilantik presiden, yakni Purbaya Yudhi Sadewa.
“Pertama, menteri baru harapan baru. Artinya, tentu kita banyak berharap. Harap dijaga harapan masyarakat ini. Kalau masyarakat masih punya harapan, itu masih bagus artinya. Modal dasar pembangunan nasional itu paling strategis adalah manusia. Sehingga, kita berharap Menkeu baru agar tidak segan-segan atau ragu-ragu mengembangkan sumber daya manusia (SDM), melalui pendidikan. Tidak boleh atau jangan pelit investasi di pengembangan SDM. Itu investasi yang manfaatnya untuk masa depan,” tegas Prof Nasih, Selasa (9/9/2025).
Selain itu, menurut dia, Menkeu harus bisa menggerakkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan bisa menciptakan kesejahteraan ekonomi sosial di daerah-daerah. “Ini untuk mencapai pemerataan ekonomi, agar tidak jawasentris. Perekonomian daerah agar bisa bergerak. Intinya, ada pusat-pusat pertumbuhan baru di daerah,” jelasnya.
Terkait masalah pajak, Prof Nasih meminta agar mengedepankan aspek sosialisasi dan aspek keadilan bagi masyarakat. “Fiskal kita sangat terbatas. Kalau ada kenaikan pajak, tolong di sisi bawah yang memiliki tanah 1000 meter persegi ke bawah, bisa dibebasin dari kenaikan. Kalau yang kaya-kaya silakan saja, mungkin bisa lebih proporsional. Kalangan menengah ke bawah jangan diutak-atik dulu, khawatir kerawanan sosial makin tinggi,” tuturnya.
Dia juga meminta Kemenkeu mengatasi masih banyaknya pengangguran di Indonesia. “Ini jadi tantangan Kemenkeu, dan saya harap bisa ikut menggerakkan proyek-proyek padat karya yang bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak. Proyek PUPR perlu didorong dan harus menjamin bebas dari praktik korupsi,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa dilantik presiden menjadi menteri keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati, Senin (8/9/2025) kemarin.
Purbaya merupakan peraih Master of Science (MSc) dan gelar Doktor di bidang Ilmu ekonomi yang diperoleh dari Purdue University, Indiana, Amerika Serikat. Sebelumnya ia meraih SI Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pria kelahiran Bogor, 7 Juli 1964 ini merupakan senior economist di Danareksa Research Institute. Selanjutnya, ia menjadi Direktur Utama PT Danareksa Securities dari April 2006 Oktober 2008. Ia juga menjadi Chief Economist Danareksa Research Institute Juli 2005-Maret 2013, dan sebagai Anggota Dewan Direksi PT Danareksa (Persero) dari Maret 2013 hingga April 2015.
Purbaya kemudian dikenal sebagai orang dekat Luhut Binsar Pandjaitan. Di era pemerintahan Jokowi, di mana ada Luhut memegang posisi, di situ ada Purbaya sebagai stafnya.
Pada Maret 2015, Purbaya ditunjuk sebagai Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis Kantor Staf Presiden oleh Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan. Ia hanya menjabat sampai September 2015. Kemudian, pada November 2015, Purbaya ditunjuk sebagai Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan yang kala itu jabatan Menko dipegang oleh Luhut.
Pada tahun 2016, ia kembali ke Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Ia menjadi Wakil Ketua Satgas Penanganan dan Penyelesaian Kasus (Debottlenecking), yang lebih dikenal dengan Pokja IV, di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Juni 2016-2020).
Kemudian, dia dipindahkan ke Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman sebagai Staf Khusus Bidang Ekonomi (Juli 2016-Mei 2018).
Selanjutnya, jabatannya naik menjadi Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dari Mei 2018 hingga Juni 2020. Selanjutnya, digeser menjadi Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi pada Juni 2020. Di saat itu, Luhut juga menjadi Menko Kemaritiman yang kemudian berubah nama menjadi Maritim dan Investasi. [tok/aje]






