Dari balik jendela ruang kerja di kawasan Syisyah, Makkah, saya memandangi bus-bus Shalawat yang mulai hilir mudik membelah kepadatan kota. Sebagai jurnalis paling junior di Media Center Haji (MCH) 2026, tugas saya di Makkah adalah merekam kedatangan gelombang pertama yang baru saja bergeser dari Madinah.
Namun, melalui layar gawai dan laporan kawan-kawan di Daerah Kerja (Daker) Bandara, saya justru menemukan altar pengabdian yang tak tersentuh lampu sorot: sebuah garis depan di mana rasa lelah telah lama dikubur demi senyum para tamu Allah.
Kawan-kawan di Bandara Amir Mohammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah adalah wajah pertama Indonesia yang dilihat jemaah. Di sana, tidak ada kalender merah, tidak ada hari libur, apalagi keinginan untuk menepi dari tugas yang mengepung selama 24 jam penuh. Mereka berdiri tegak di pintu kedatangan, bukan sebagai birokrat, melainkan sebagai anak yang menyambut kepulangan orang tuanya.
Melalui laporan kawan-kawan, saya seakan bisa mencium aroma haru di Hajj Pavilion Bandara Madinah. Fasilitas yang sejuk bak hotel itu menjadi saksi bisu fragmen-fragmen yang sanggup meruntuhkan pertahanan emosi siapa pun.
Saya membayangkan jemaah asal Bima atau Lombok yang, setelah belasan jam mengarungi langit, langsung luruh dalam sujud syukur sesaat setelah kaki mereka menyentuh aspal Tanah Suci.
Sujud itu bukan sekadar ritual. Itu adalah ledakan rindu yang tertahan puluhan tahun dalam tabungan receh para petani dan pedagang kecil. Bagi petugas di Bandara, menyaksikan kening-kening yang bersentuhan dengan debu suci adalah asupan energi yang melampaui kafein mana pun.
Di sana, dedikasi “Haji Ramah Lansia” bukan lagi slogan, melainkan tindakan nyata saat petugas sigap memapah punggung-punggung yang telah membungkuk dimakan usia.
Antara Berita dan Kursi Roda
Di Makkah, saya pun mengalami pergulatan yang sama. Ada saat di mana naluri jurnalis saya berteriak untuk membidik momen seorang nenek yang kesulitan menaiki bus Shalawat berteknologi hidrolik. Namun, saat melihat tangan rentanya bergetar mencari pegangan, lensa smartphone ini tiba-tiba terasa tak berguna.
Saya memilih menanggalkan lensa itu. Saya biarkan momen “berita” itu hilang, demi memastikan sang ibu duduk dengan nyaman di kursi rodanya, atau bahkan nenek-nenek yang sudah bertongkat tak lagi mampu berjalan. Hanya ada pilihan, mencarikannya kursi roda atau memanggulnya.
Ada kemabruran yang saya kejar di balik roda-roda itu—sebuah keyakinan bahwa menjadi jurnalis haji adalah tentang menulis dengan hati, bukan sekadar mengejar angka atau rilis resmi. Seperti kata rekan sekamar saya, Bung Citro Atmoko, yang baru saja dikukuhkan sebagai Kepala Biro Antara Provinsi Lampung atau rekan-rekan MCH lainnya, rasa lelah adalah penebusan, dan senyum jemaah adalah honor tertinggi yang tak ternilai harganya.
Tahun 2026 mencatatkan sejarah dengan 33 persen petugas perempuan, sebuah afirmasi bahwa jemaah perempuan membutuhkan perlindungan dan privasi yang lebih dari sekadar urusan teknis.
Di Makkah, kami melihat bagaimana tim Layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) bekerja dengan “Kurikulum Berbasis Cinta”. Mereka tidak hanya mengurus mobilitas, tapi juga menjadi teman bicara bagi jemaah yang mengalami stres atau kelelahan luar biasa.
Inovasi seperti “Ihram Isytirat” (ihram bersyarat) menjadi payung spiritual bagi mereka yang risti (risiko tinggi), memberikan ketenangan bahwa Tuhan tidak pernah memaksakan beban di luar batas kemampuan. Inilah wajah haji kita: sebuah sistem yang besar namun tetap memiliki detak jantung kemanusiaan yang sangat halus.
Opini ini adalah surat cinta saya untuk rekan-rekan di petugas haji yang tak kenal lelah, dan bagi para jemaah yang setiap sujudnya menitipkan doa bagi keselamatan bangsa. Saya belajar bahwa di Tanah Suci ini, kita semua adalah pelayan. Tidak peduli apakah kita membawa pulpen, kamera, atau mendorong kursi roda.
Haji 2026 yang ramah lansia, disabilitas, dan perempuan adalah bukti bahwa negara tidak hanya hadir secara administratif, tapi hadir secara emosional. Sebagai jurnalis junior, saya mungkin tidak punya banyak senioritas untuk dibanggakan, tapi saya punya sepasang tangan yang siap mendorong kursi roda jemaah hingga ke pintu surga. Kedatangan jemaah gelombang satu, telah berlalu. Kemudian, pada saatnya, para jemaah akan berada di satu titik kumpul, wukuf di Arafah.
Karena pada akhirnya, berita terbaik yang bisa saya tulis adalah ketika saya melihat tidak ada lagi air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia dari mereka yang merasa dimuliakan di rumah Allah.
Muhammad Isnan,
Jurnalis beritajatim.com, anggota Tim Media Center Haji (MCH) 2026






