Surabaya (beritajatim.com) – Apakah Anda pernah mendengar istilah Calciphylaxis? Merupakan sebuah jenis penyakit serius yang jarang terjadi atau bisa disebut dengan penyakit langka. Umumnya penyakit ini dapat muncul pada orang yang memiliki penyakit ginjal stadium akhir, namun akan jarang terjadi pada ginjal normal.
Penyakit yang dikenal dengan kalsifilaksis uremik ateriolopathy (CUA) ini, adalah penyakit yang diakibatkan oleh penumpukan kalsium dalam pembuluh darah hingga akhirnya menyebabkan penggumpalan pada darah.
Selain itu kalsifilaksis juga dapat mengakibatkan infeksi yang serius yang dapat menyebabkan kematian.
Gejala kalsifilaksis yang paling sering terjadi ditandai dengan kerusakan kulit atau adanya lesi berwarna ungu yang menyakitkan. Di mana gejala ini biasanya tidak dapat disembuhkan.
Ada juga tanda dan gejala lainnya, diantaranya meliputi lesi kulit terutama pada tungkai bawah atau area yang memiliki kandungan lemak tinggi, seperti payudara, bokong, paha, dan perut, meskipun bisa terjadi di mana saja.
Tidak hanya itu, lesi juga memiliki gejala lain seperti infeksi luka yang tidak kunjung sembuh, mudah lelah, lemah, kram, hingga pegal-pegal.
Perlu diketahui jika penyebab kalsifilaksis lantaran terjadinya penumpukan kalsium dalam pembuluh darah. Tetapi tidak diketahui secara jelas mekanisme penyebab penumpukan tersebut. Kemungkinan, ini terjadi karena adanya masalah metabolisme mineral dan hormon, seperti kalsium, fosfat, dan hormone paratiroid.
Selain itu, orang dengan kondisi gagal ginjal lanjut berada pada risiko tertinggi mengalami kalsifilaksis. Menurut laporan ada sekitar 1 hingga 4,5 persen orang yang menjalani dialysis.
Bagi penderita diabetes maupun orang yang terkena obesitas juga dapat berisiko tinggi mengalami kalsifilaksis ini.
Untuk cara pencegahan, cobalah untuk mengonsumsi obat warfarin atau caumadin, yakni agar mencegah pembekuan darah. Anda juga bisa melakukan operasi paratiroidektomi, untuk mengangkat satu atau lebih kelenjar paratiroid. Hal ini cara terakhir jika obat-obatan tidak dapat mengontrol kadar kalsium atau fosfor.
Kalsifilaksis diketahui dua kali lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, serta orang yang berusia diatas 50 tahun. (frs/ian)






