Surabaya (beritajatim.com) – Tanpa kita sadari, kecemasan adalah salah satu bentuk dari gangguan kejiwaan yang sering dialami anak muda hingga dewasa. Gejala ini sering dialami oleh individu dengan rasa yang gelisah, mudah marah, sedih, imulsif, kehilangan semangat dan energi dan putus asa.
Anxiety ini sering dibarengi dengan perasaan depresi yang tentunya menjadi sulit untuk membedakan dan mengidentifikasi dari kedua gangguan ini. Ditinjau dari dampak yang ditimbulkan oleh kecemasan atau anxiety ini, orang yang mengidap akan terganggu aktivitasnya dan menjadi tidak produktif.
[berita-terkait number=”4″ tag=”depresi”]
Pada masa andemi saat ini ternyata memiliki damak bukan hanya dalam segi ekonomi namun juga individu. Menurut salah satu peneliti yang bernama Brooks, dkk ada tahun 2020, damak sikilogis yang dirasakan oleh individu adalah gangguan stress ascatrauma, kebingungan, kegelisahan, frustasi, ketakutan akan infeksi, insomnia dan merasa tidak berdaya.
Setiap individu memiliki reaksi kecemasan yang berbeda, untuk sebagian orang, reaksi kecemasan ini tidak selalu diiringi dengan reaksi fisiologis.
Namun, dibeberapa orang tertentu berdampak reaksi fisiologis seperti berkeringat, sakit perut, detak jantung cepat dan sebagainya. Kecemasan dapat berasal dari resesi terhadap peristiwa yang tidak terkendali menurut Shin dan Newman pada tahun 2019.
Sama halnya seerti covid 19 ini. Berbagai aktivitas yang biasanya dikerjakan di luar ruangan harus dipindahkan didalam rumah atau (work from home). Bekerja dari rumah ini bukan hanya sekedar memindahkan aktivitas saja, namun rasionalisasi untuk diri sendiri juga yang memiliki upaya untuk menjaga kesehatan mental diri sehingga tidak menimbulkan frustasi, rasa bersalah dan sebagainya.
Saat pandemi baru muncul, masyarakat dihebohkan dengan kegiatan yang disebut dengan panic buying yang menggambarkan ancaman kelangkaan bahan kebutuhan pokok.
Pemberitaan yang sering muncul di media hampir selalu memberitakan tentang andemi covid 19 yang membuat banyak korban meninggal. Oleh karena itu, untuk mengelola kecemasan ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental di masa pandemi saat ini.
Pengelolaan tersebut bisa dimulai dari menyeleksi informasi yang diterima. Informasi dan kebijakan dapat mempengaruhi penilaian seseorang terhadap covid 19. Kemudian, beradaptasi dengan kondisi pandemi. Adaptasi merupakan kemampuan dari individu yang melakukan penyesuaian diri pada suatu tempat atau lingkungan yang baru Lalu, mengurangi menonton, membaca atau mendengarkan berita yang membuat kecemasan semakin meningkat.
Diusahakan untuk mencari informasi hanya 1 sampai 2 di sumber yang terpercaya dan memberikan rencana taktis untuk melindungi diri dan orang orang terdekat. [rad/bjo]






