Surabaya (beritajatim.com) – Mengambil jalur kiri sesampainya di Tugu Bambu Runcing, Mojoagung, Jombang, dari arah Surabaya. Berjalan santai saja, dan sepuluh menit kemudian pemandangan akan berganti ke area persawanan di kanan-kiri.
Beberapa saat kemudian, kita akan disuguhi pemandangan berupa bangunan-bangunan bergaya neogotik, khas Eropa.
Tepat setelah melewati Lapangan Mojowarno di kiri jalan, komplek bangunan bergaya Eropa dengan kombinasi warna putih akan menyambut. Itulah bangunan Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Rumah sakit yang menjadi penanda kejayaan Kristen di Desa Mojowarno.
Didirikan dengan nama awal Zendings Ziekenhuis te Mojowarno tanggal 6 Juni 1894, rumah sakit ini diinisiasi oleh Johannes Jan Kruyt. Seorang misionaris Belanda ini, lahir di Den Haag, 18 Februari 1835 dari seorang ayah yang juga seorang dokter, Arie Kruyt.
Berkat baiknya perawatan dan pelayanan di rumah sakit ini, pasien yang datang ke Zendings Ziekenhuis te Mojowarno mencapai ribuan orang dan berasal dari berbagai kota. Bukan saja diisi oleh dokter dan perawat asal Belanda, rumah sakit ini juga mengajari orang-orang pribumi untuk menjadi perawat. Bahkan, melahirkan dokter pribumi Bernama dokter Ismael.
Di usia 23 tahun, Jan Kruyt berangkat dari Belanda dan sampai di Batavia 23 November 1858 setelah melalui perjalanan selama tiga bulan. Dari Batavia ia melakukan perjalanan ke Surabaya dengan kapal dan lanjut ke Malang. Di sana ia dididik oleh Samuel Eliza Harthoorn untuk belajar Bahasa jawa dan sejarah lokal jawa terutama tentang Mojowarno.
Ketika itu, Mojowarno memang sudah banyak dikenal. Sebab, desa yang awalnya adalah bagian dari Hutan Kracil ini memang didirikan oleh seorang Kristen. Desa ini dibabat tahun 1850 oleh Wiryoguno, seorang dalang asal Bangkalan, Madura.
Wiryoguno, bukanlah orang biasa. Selain dalang wayang purwa yang terkenal di daerah Sidoarjo dan Surabaya, ia juga cucu dari Sultan Cakra Adiningrat II. Ia dibaptis oleh Johannes Emde, di Surabaya. Ia pun mengajak 50 anggota keluarganya yang ada di Bogem, Sidoarjo untuk menjadi Kristen dan dibaptis oleh Emde secara bertahap.
Wiryoguno dan 50 anggota keluarganya inilah yang menjadi rombongan pertama membabat Hutan Kracil menjadi Desa Mojowarno. Jan Kruyt sendiri merupakan generasi ketiga pendeta yang dikirim ke Mojowarno. Sebelumnya ada pendeta Jelessma, disambung pendeta Hoezoo, kemudian Jan Kruyt.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sejarah, pengetahuan-populer”]
Di masa Jan Kruyt ini perkembangan agama Kristen di Mojowarno berkembang dengan pesat. Jemaat di tahun 1900 delapan belas tahun sebelum Kruyt meninggal, jemaat Kristen di Mojowarno menjadi yang terbesar di Jawa Timur dengan total 3555 orang.
Zendings Ziekenhuis te Mojowarno sebelumnya pernah dihancurkan usai proklamasi. Akibat dari siasat bumi hangus untuk menghilangkan semua yang berbau belanda. Rumah sakit ini kemudian dibangun kembali di tahun 1949 dengan nama Rumah Sakit Kristen Mojowarno. [tur/bjo]






