Surabaya (beritajatim.com) – Sejarah mencatat, 8 Februari merupakan hari jadi Kota Pasuruan. Salah satu kota di Jawa Timur ini memiliki sejarah dan ciri khas tersendiri.
Kota Pasuruan didirikan pada tahun 1686 silam. Ini artinya, kota yang terletak 60 km sebelah tenggara Kota Surabaya ini telah berusia 337 tahun.
Nah, untuk mengenal lebih dalam tentang kota satu ini, berikut ini adalah serba – serbi dari Kota Pasuruan yang perlu kalian ketahui!
Sejarah Berdirinya
Di zaman Kerajaan Airlangga, Pasuruan dikenal dengan sebutan ‘Paravan’, sedangkan masyarakat Tionghoa menyebut Pasuruan sebagai Yanwang atau Basuluan. Ada pula yang menyamakan nama Pasuruan dengan kata ‘Pasar’ dan ‘Oeang’.
Hal ini karena daerah ini merupakan pelabuhan yang ramai dengan perdagangannya, dikenal sebagai ‘Tanjung Tembikar’. Lokasinya yang strategis untuk transit dan melakukan transaksi jual beli antar pulau maupun negara membuat banyak pedagang, bangsawan dan saudagar datang ke wilayah ini, bahkan menetap untuk waktu yang lama.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sejarah”]
Dilansir dari laman resmi pasuruankota.go.id, perkembangan Kota Pasuruan tak luput dari segala sejarah yang terjadi. Mulai dari naik tahtanya Untung Suropati sebagai salah seorang raja Pasuruan, atau Adipati Dharmoyudo yang secara turun temurun pernah menjadi penguasa Pasuruan.
Akan tetapi secara legal, Pemerintah Kota baru hadir setelah Residensi Pasuruan terbentuk pada 1 Januari 1901, yakni oleh Pemerintah Hindia Belanda. Barulah selanjutnya ditindaklanjuti pembentukan Kota Praja (Gementee) Pasuruan seperti tercatat dalam Staatblat 1918 No. 320 dengan nama Stads Gementee van Pasoeroean pada 20 Juni 1918.
Kala era Presiden Soekarno, Pasuruan diklaim sebagai Kotamadya dengan tiga desa dan satu kecamatan dalam wilayah kekuasaan. Kemudian pada 21 Desember 1982, Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 kecamatan dengan 19 kelurahan dan 15 desa. Kini Pasuruan semakin berkembang dengan memiliki 4 kecamatan dan 34 kelurahan.
Ciri khas
Pasuruan dijuluki sebagai Kota Santri, hal ini mengacu pada beberapa pesantren ternama di sana. Diantaranya ada Pondok Pesantren Al-Yasini, Pondok Ngalah, hingga Pondok Pesantren Sidogiri.
Selain itu, kota ini juga masih amat kental dengan budaya dan istiadatnya. Salah satunya adalah Petik Laut, yang merupakan upacara adat dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan sepanjang tahun. Upacara ini diadakan pada setiap 1 Sura atau 1 Muharram, biasanya akan diramaikan dengan para nelayan yang menghias perahu serta kegiatan larung sesaji dalam bentuk kepala sapi dan nasi tumpeng.
Selain itu juga ada kebudayaan Pencak Silat Kuntu Mancilan, Tari Terbang Bandung, hingga Tari Pasuruan Kondang yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Kuliner dan tempat wisata
Ketika melancong ke Pasuruan, jangan khawatir karena ada banyak sekali kuliner khas yang siap menyambut kalian serta tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Beberapa makanan tradisional yang bisa kalian coba adalah bipang Jangkar, roti Matahari, sate komo, dan juga kupang Kraton khas kota Pasuruan.
Sementara untuk tempat wisata, Kota Pasuruan memiliki banyak sekali lokasi – lokasi yang mengasyikkan. Mulai dari wisata bahari seperti melihat hiu tutul di laut Pasuruan, wisata religi yakni berziarah makam tokoh – tokoh agama Islam dan pahlawan nasional, wisata kampung, cagar budaya, hingga berbagai taman yang tersedia.
Nah, jika kalian ingin berlibur di wilayah Jawa Timur, maka tak ada salahnya untuk memasukkan Kota Pasuruan dalam salah satu daftarnya. (mnd/nap)






