Surabaya (beritajatim.com) – Kuat dan bertekad. Itulah definisi drg Nirawati Pribadi, meski mengidap penyakit jantung koroner, Dosen Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (FKG Unair) meraih prestasi meski harus bertahan dengan penyakit yang dideritanya.
Sosok perempun inspiratif yang juga berprofesi sebagai dokter gigi ini mengajarkan bagaimana usaha itu akan kuat dengan peran dan dorongan dari keluarga yang mendukung, agar penyakit yang ia derita tidak menjadi hambatan untuk terus meraih prestasi.
Wiwin sapaan akrab drg. Nirawati Pribadi bercerita, dirinya di-diagnosis jantung koroner mulai tahun 2008. Bahkan sudah melalui tahap pemasangan ring jantung. Dengan kondisinya, perempuan 58 tahun itu berhasil dikukuhkan sebagai doktor.
“Alhamdulillah kuliah doktor selesai dalam 3,5 tahun. Terlewat satu semester karena sempat sekeluarga terkena covid Juli lalu,” kata Wiwin saat bercerita kepada beritajatim.com, Senin (10/1/2022).
Dalam menyelesaikan disertasi, ia merasakan perbedaan suasana ketika melakukan penelitian di tengah kondisi pandemi covid-19. Namun lagi-lagi, hal itu tidak menjadi penghalang Wiwin untuk terus maju.
“Karena pandemi, laboratorium tempat meneliti tutup. Biasanya kalau di lab itu banyak orang, ada yang dari FK, FKH, Farmasi juga ada, bareng-bareng gitu biasanya, kali ini sepi. Tapi untungnya pihak lab bisa nego jadi saya bisa ngerjakan disertasi di tengah pandemi,” katanya.
“Selama keluarga mendukung penuh, tidak ada kendala berarti ya, secara umum masih baik-baik saja,” tambahnya.
Seputar Disertasi
Wiwin meneliti propolis sebagai anti inflamasi dan antioksidan untuk gigi, yang dikombinasikan dengan kalsium hidroksida yang selama ini digunakan untuk perawatan gigi. Mengkombinasikan dengan propolis diharapkan bisa mempercepat penyembuhan gigi.
“Dengan kombinasi bahan propolis, anti inflamasi pada gigi bisa dipercepat. Maka kalsium akan masuk untuk membantu kesembuhan gigi. Kalau bahasa umumnya, kandungan propolis bisa mempercepat penyembuhan keradangan gigi,” jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unair”]
Disertasi tersebut merupakan komitmennya sebagai seorang akademisi sekaligus dokter gigi untuk meningkatkan kualitas kesehatan pada masyarakat. “Kesehatan gigi sangat penting, karena itu menunjukkan kualitas kesehatan masyarakat,” tambahnya.
Namun Wiwin mengatakan, penelitian ini masih di ujicoba ke tikus. Sehingga masih menempuh banyak tahap untuk diterapkan ke manusia.
Pentingnya Kebersamaan Keluarga
Wiwin mengungkapkan rasa bahagianya di tengah keluarga yang mendukung hingga turut andil membantunya untuk meraih gelar doktor. Hal ini ia rasa perlu untuk dibagikan agar mampu memberi motivasi bagi orang lain.
“Support keluarga untuk menyelesaikan program doktor ini, rasanya itu keluarga supportnya luar biasa. Di tengah kesibukan anak-anak dan suami, masih bisa membantu saya buat penelitian. Jadi kalau sudah lulus gini, rasanya semuanya seneng,” ucap Wiwin dengan senyum.
Menurut ibu dua anak ini, penelitian untuk disertasi dilakukan secara mandiri, bukan penelitian secara kelompok. “Pasti sulit ketika tidak memiliki teman, karena ini bukan penelitian kelompok. Makannya support dari keluarga itu penting,” jelasnya.
Untuk menyelesaikan disertasi, Wiwin terbantukan dengan anak-anaknya yang secara langsung turut andil terlibat. Anak-anak Wiwin juga berlatarbelakang pendidikan kedokteran.
“Putri saya, anak yang kedua, lagi kuliah S2 di kedokteran gigi Unair dan kami penelitian bersama-sama. Putra pertama saya seorang spesialis kandungan yang berdinas di kepolisian, jadi supportnya bisa saling bantu saat penelitian. Akhirnya gerak saya buat menempuh doktor ini jadi lebih cepat,” tambah Wiwin.
Gemar Line Dance dan Bersepeda
Soal kebersamaan keluarga, menurut Wiwin, tidak hanya dirasakan dalam aktivitas akademik. Melainkan juga aktivitas non-akademik. Kedekatan keluarga perlu dibentuk dengan tindakan tindakan kecil namun memiliki dampak besar dalam suasana keluarga. Seperti yang ia ceritakan.
“Karena suami prakteknya di RS Situbondo, Sabtu Minggu disini. Makannya waktu kalau lagi kumpul begini, selalu kami habiskan untuk kegiatan out door bersama,” katanya.
Wiwin mengaku menggemari menari dan traveling. Namun saat Indonesia diterpa pandemi Covid-19, kegiatan Wiwin dan keluarga berubah menjadi bersepeda. “Saya dan suami suka line dance, kadang juga couple karena sering berdansa berdua. Kita punya klub dansa juga. Kita sering traveling juga,” ucapnya.
“Lalu sejak pandemi, mulai (olahraga) bersepeda semuanya. Kami biasa melakukan hal-hal itu secara family ini kemana-mana,” tambahnya.
Soal masalah kesehatan yang dialami Wiwin, justru tidak menghalangi aktivitas yang dilakukannya. Karena menurutnya kebahagiaan dan kebersamaan dalam keluarga yang membuatnya tetap sehat. “Selama perasaan dan pikiran bahagia, ya jalan (beraktivitas normal, red) saja,” pungkasnya. [suf]







