Surabaya (beriajatim.com)- Sebelum beras jadi makanan pokok seperti sekarang, masyarakat di Nusa Tenggara Timur sudah lebih dulu mengenal sorgum sebagai sumber pangan utama. Tanaman yang berasal dari Afrika ribuan tahun lalu ini menyebar hingga ke Asia, termasuk Nusantara, dan jadi andalan petani di daerah yang kering serta panas, di mana padi sulit tumbuh.
Yang menarik, sorgum bukan sekadar bahan pangan, tapi juga bagian dari tradisi. Di masyarakat Lamaholot misalnya, sorgum punya tempat istimewa dalam budaya bertani. Bahkan, sebelum memanen padi, mereka harus lebih dulu melakukan ritual panen sorgum. Dari sini terlihat bahwa biji kecil ini bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang erat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Biji kecil berwarna cokelat kemerahan ini jadi sumber tenaga sehari-hari masyarakat, diolah menjadi bubur, nasi sorgum, hingga camilan sederhana. Karena mudah tumbuh di tanah kering dan tidak rewel soal perawatan, sorgum benar-benar jadi penyelamat bagi petani.
Namun, seiring berkembangnya zaman, posisi sorgum perlahan tergeser. Beras yang lebih banyak diproduksi dan dianggap lebih praktis mulai mengambil alih peran utama sebagai makanan pokok. Padahal, sorgum mempunyai banyak keunggulan.
Sorgum memiliki biji yang kaya akan serat, tinggi protein nabati, serta mengandung berbagai vitamin dan mineral penting seperti zat besi, magnesium, hingga antioksidan. Menariknya lagi, sorgum bebas gluten, sehingga aman dikonsumsi bagi mereka yang punya intoleransi gluten atau sedang menjalani pola makan tertentu.
Dibandingkan dengan beras putih, sorgum punya indeks glikemik lebih rendah, artinya tidak cepat menaikkan kadar gula darah. Ini membuatnya cocok untuk penderita diabetes atau mereka yang ingin menjaga pola makan sehat. Sementara bila disejajarkan dengan gandum, sorgum punya keunggulan karena sama-sama tinggi serat, tapi tidak mengandung gluten.
Meskipun sempat tergeserkan, kini di tengah tren kembali ke pangan lokal dan gaya hidup sehat, sorgum mulai bangkit lagi sebagai alternatif makanan pokok. Banyak orang kini mencari bahan pangan yang tidak hanya bergizi, tapi juga lebih ramah bagi tubuh. Sorgum hadir menjawab kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan makanan kaya nutrisi, bebas gluten, dan serbaguna untuk diolah dalam berbagai menu.
Dengan teknologi yang semakin modern, sorgum idak lagi sebatas nasi atau bubur tradisional, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk seperti snack sehat, tepung pengganti gandum, mie rendah gluten, hingga minuman praktis. Inovasi ini membuat sorgum semakin dekat dengan gaya hidup masyarakat urban yang ingin sehat tanpa ribet.
Selain menyehatkan, sorgum juga dikenal ramah lingkungan. Tanaman ini bisa tumbuh di lahan kering dengan sedikit air, bahkan tahan terhadap cuaca ekstrem. Artinya, sorgum tidak hanya jadi solusi bagi kebutuhan pangan, tapi juga bisa membantu menghadapi tantangan perubahan iklim. Inilah yang membuat sorgum sering disebut sebagai tanaman masa depan yang berkelanjutan.
[Erlina Damayanti]






