Surabaya (beritajatim.com) – Banyak ditemui seseorang di sekitar kita atau bahkan diri sendiri yang kerap menunda-nunda pekerjaan. Mulai dari tugas sekolah, skripsi, pekerjaan kantor, hingga pekerjaan rumahan yang harusnya segera diselesaikan.
Namun, entah karena sedang tidak mood, males, sibuk scroll media sosial, hingga main games, tak ayal membuat aktivitas yang harusnya segera diselesaikan jadi tertunda bahkan tidak maksimal dikerjakan.
Kerap menunda pekerjaan ini bisa jadi karena seseorang mengidap prokrastinasi. Mungkin belum banyak orang yang tahu bahwa prokrastinasi merupakan perilaku seseorang yang menggantikan sesuatu yang memiliki prioritas tinggi atau penting menjadi hal yang berprioritas rendah.
Jika perilaku tersebut sudah menjadi keseharian atau kebiasaan, maka biasanya orang lain akan menganggapnya sebagai orang yang pemalas atau bahkan tidak mau maju berkembang. Jadi seakan-akan hal ini merupakan kesalahan dari individunya.
Padahal bisa jadi karena ada hal lain yang terjadi pada penderita prokastinasi. Beberapa hal yang kerap dialami seseorang saat prokastinasi ialah adanya perasaan cemas, khawatir, dan takut.
Tak ayal ketika hendak melakukan aktivitas yang penting tersebut ia merasa lebih sulit dari seharusnya. Hal ini juga dipengaruhi karena adanya persepsi, asumsi, hingga pikiran-pikiran mengenai tugas itu sendiri.
Meski pada dasarnya setiap orang tahu bahwa mengerjakan tugas dan tanggungjawab tersebut tidak akan memberikan dampak buruk. Apalagi mereka juga tahu bahwa hal tersebut sebenarnya juga tidak memerlukan waktu yang panjang untuk menyelesaikannya.
Namun, tetap saja orang yang mengalami prokastinasi ini lebih memilih menundanya. Jadi sebenarnya yang mereka hindari bukanlah tugasnya, melainkan perasaan cemas, takut, serta khawatir terkait tugas tersebut.
Tak ayal jika akhirnya justru hal dihindari atau ditunda-tunda pekerjaannya. Kenyataannya prokrastinasi termasuk orang yang memilih memposisikan diri dalam situasi yang nyaman dan rileks, kemudian barulah memikirkan konsekuensi yang mungkin akan dihadapi setelahnya.
Padahal mereka pun tahu jika mengerjakan sesuatu yang lebih penting terlebih dahulu, setidaknya dapat membuat perasaan aman, tenang, dan memunculkan beragam hal baik yang telah menunggu. Namun, semua itu bukanlah hal utama yang ada dalam pikiran mereka. [fyi/tur]






