Banyuwangi (beritajatim.com) – Motif batik Banyuwangi cukup beragam dan bernilai. Ciri khas itu menjadi wajah perbedaan hasil karya abadi dari setiap pelaku di daerahnya masing-masing.
Sejumlah motif batik Banyuwangi yang banyak dikenal cukup banyak. Semua memiliki ciri khas dan penggemar serta kegunaan masing-masing. Di antaranya motif Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Paras Gempal, Kopi Pecah, Gedekan, Ukel, Moto Pitik, Sembruk Cacing, Blarak Semplah, Gringsing, Sekar Jagad, dan lainnya.
Gajah Oling menjadi bagian dari puluhan motif batik di Banyuwangi paling populer dibanding motif lainnya. Motif ini merupakan perpaduan dari gambaran gajah dan uling atau sejenis belut.
Aekanu Hariyono, dosen mantan PNS Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sekaligus budayawan Banyuwangi menyebut, Batik Gajah Oling adalah simbol perputaran hidup manusia dalam filosofi jawa, Cakra Manggilingan. Menurutnya, roda kehidupan itu akan terus berputar namun kekuasaan manusia yang masih terbatas.
Namun, ada beberapa pendapat dalam memaknai motif ini. Akan tetapi, makna paling populer yaitu melambangkan sebagai pengingat Tuhan.
Pasalnya, kata Oling adalah pasemon dari kata iling (ingat), sedangkan gajah adalah simbol dari sesuatu yang besar gambaran Tuhan Yang Mahakuasa.
Berkah Tuhan itu, kini motif batik Gajah Oling berhasil mendapatkan surat pencatatan inventarisasi kekayaan intelektual komunal (KIK) dari Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Sekaligus tercatat sebagai Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) asli Banyuwangi.
“Kita semua sangat bersyukur. Motif batik Gajah Oling sudah sah secara hukum diakui berasal dari Banyuwangi. Kita akan terus dorong motif-motif batik lain untuk segera dicatatkan pula,” kata Plt. Bupati Banyuwangi Sugirah.
Motif Gajah Oling, kata Sugirah, menjadi bukti bahwa batik telah lama menjadi bagian dari seni budaya Banyuwangi. Pemkab beserta stakeholder lain tentunya harus merasa memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan batik di daerahnya.
Event Banyuwangi Batik Festival (BBF), kata Sugirah, merupakan salah satu contoh keseriusan pemkab dalam melestarikan dan menjadikan batik Banyuwangi untuk berkembang industrinya.
BBF 2024 mengangkat salah satu motif lawas batik Banyuwangi, yakni Jenon. Sebelumnya BBF juga mengangkat motif Gajah Oling, Galaran, Sembruk Cacing, Gedekan, Kangkung Setingkes, Paras Gempal dan Jajang Sebarong, hingga Sekar Jagad Blambangan.
“Satu persatu setiap tahunnya motif-motif khas Banyuwangi kita angkat dalam BBF mulai tahun 2013. Diawali dari Gajah Oling, lalu Kangkung Setingkes, Paras Gempol, Sekar Jagad Blambangan, Kopi Pecah, hingga tahun ini Jenon. Ini adalah kekayaan warisan leluhur yang harus kita jaga, lestarikan, dan kembangkan,” kata Sugirah.
Beragamnya motif batik yang dimiliki, akan terus didorong dan difasilitasi pemkab untuk disahkan sebagai kekayaan intelektual komunal dari Kemenkumham.
“Ke depan pemkab akan terus mengupayakan pengakuan hukum atas keanekaragaman budaya Banyuwangi, termasuk motif batik khas-nya,” pungkasnya. [rin/aje]






