Persebaya mengawali tahun kalender 2025 dengan kekalahan 1-3 dari PSS Sleman pada 11 Januari 2025. Ini membuka rangkaian hasil buruk sepanjang Januari 2025. Setelah itu Persebaya mengalami dua kekalahan dan satu hasil imbang.
Hasil awal Januari 2025 seperti menjadi sinyal kondisi suporter Persebaya sepanjang tahun ini: frustrasi. Sepanjang 2025, Persebaya telah bertanding 32 kali dan hanya memenangi 9 pertandingan. Bajul Ijo menuai 14 kali hasil imbang dan 9 kekalahan.
Tujuh belas pertandingan adalah bagian dari musim 2024-25. Persebaya hanya menang empat kali, imbang tujih kali, dan kalah enam kali, dengan produktivitas 19 gol dan kebobolan 25 gol.
Lima belas pertandingan musim 2025-26 menyajikan data lebih baik, kendati tak memuaskan. Persebaya menang lima kali, imbang tujuh kali, dan kalah tiga kali. Produktivitas membaik dengan 21 gol dan kebobolan 15 gol.
Dengan situasi demikian, tak heran jika kemudian kemenangan 4-0 atas Persijap di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (28/12/2025), menjadi sesuatu yang patut dirayakan. Kemenangan ini memunculkan harapan baru.
Empat gol diborong pemain asing: Bruno Moreira pada menit 26, Leo Lelis pada menit 38, Francisco Rivera pada menit 80′, dan Mihailo Perovic pada menit 85.
Gol pertama dibuka Moreira melalui titik putih kotak penalti, setelah Francisco Rivera dilanggar pemain Persijap Rizki Hidayat. Gol ini membuat Persebaya mendapat angin segar setelah sejak awal ditekan oleh tim tamu.
Sekali lagi pertandingan ini menunjukkan betapa pentingnya posisi Moreira dan Rivera bagi Persebaya. Tentu menarik menunggu bagaimana pelatih baru Persebaya, Bernardo Tavares, bisa memaksimalkan mereka.
Sejauh ini Uston Nawawi dengan segala keterbatasannya selaku pelatih sementara sudah menunjukkan keampuhan racikan strategi. Setiap kali dipegang Uston, Persebaya menunjukkan gaya bermain dan determinasi lebih kuat. Soal hasil, Uston juga tak terlampau mengecewakan
Dari 13 kali pertandingan, dia mengantongi 5 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 1 kekalahan. Dari potensi 39 poin yang bisa diraih, Uston mengantongi 22 poin atau 56,41 persen.
Gol kedua membuktikan bagaimana Leo Lelis adalah pilihan terbaik di bek tengah daripada semua pemain bertahan impor Persebaya. Kemampuannya di kotak penalti lawan dalam memaksimalkan skema bola mati menjadi keuntungan tersendiri untuk memecah kebuntuan. Di bawah Tavares, kita bisa berharap kemampaun Lelis bisa lebih baik.
Gol ketiga yang dicetak Rivera berasal dari kerja keras Gali Freitas, pemain asing asal Timor Leste yang mewarnai lini serang Persebaya. Keberanian dan kehandalannya bermanuver menembus kotak penalti lawan dibutuhkan untuk mencetak gol-gol jarak dekat, mengingat pemain Persebaya tidak cukup memiliki kelayakan mencetak gol-gol jarak jauh.
Sementara itu, kendati mencetak gol keempat, performa Mihailo Perovi masih jauh dari harapan. Dia menjadi bukti kesekian kegagalan departemen rekrutmen Persebaya dalam mencari pemain depan yang bertaji. Kita tidak tahu bagaimana keputusan Tavares setelah melihat lini gedor Persebaya yang hingga 15 pertandingan baru bisa mencetak 21 gol.
Namun apapun setiap kemenangan harus dirayakan, terutama di kandang sendiri. Ini menjadi modal bagi pelatih baru untuk melihat dan memperbaiki performa Persebaya ke depan. [wir]






