Surabaya (beritajatim.com) – Kucing merupakan hewan yang paling sering kita jumpai. Baik sebagai hewan peliharaan maupun kucing liar yang sudah biasa berinteraksi dengan manusia.
Secara khusus, Nabi Muhammad, menyebutkan bahwa kucing bukan hewan yang najis. Salah satu hadist yang populer diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Tirmidzi dan Imam Ahmad, Nabi saw. bersabda;
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجِسٍ إَنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِيْنَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Kucing itu tidak najis sebab kucing itu termasuk yang berkeliaran di tengah kalian.”
Bahkan dalam islam, air bekas minum kucing tidak digolongkan sebagai air najis. Seperti yang disebutkan dalam kitab Almajmu, air bekas minum atau makan kucing tidak najis. Begitu juga air bekas hewan yang lain, seperti ayam, kambing, sapi, kuda, dan lainnya, juga tidak najis. Yang najis hanya air bekas minum atau makan anjing dan babi.
Melihat dari hukum mengenai air bekas minum kucing yang tidak najis, membuat kita bertanya-tanya dari segi ilmiah. Bagaimana penjelasannya?
Kucing ternyata adalah binatang yang istimewa apabila dilihat dari segi kebersihannya. Kucing adalah hewan yang suka kebersihan. Ia juga rentan terserang penyakit apabila lingkungan yang ditinggali tidak bersih.
1. Kucing memiliki mekanisme cara minum yang rumit
Jurnal Science telah menerbitkan studi konklusif tentang bagaimana kucing minum. Salah satu yang paling banyak dibahas adalah perbedaan cara minum antara kucing dan anjing.
Anjing menggunakan lidahnya seperti sekop untuk mengangkat dan menarik air ke dalam mulutnya.
Sedangkan kucing memilih mekanisme yang lebih rumit. Pertama, mereka menggerakkan ujung lidah ke permukaan air untuk mengibaskan air ke atas, sehingga semburan kecil cairan terbang ke udara. Kemudian, dalam sekejap, mereka menangkap air itu di mulut mereka.
Hal yang mengesankan adalah setiap kali kucing minum, lidahnya terjulur dengan cepat, sebanyak empat kali per detik.
“Saya tidak tahu mengapa kucing tidak melakukannya dengan cara biasa, tetapi kita semua tahu itulah hal yang menarik tentang biologi: Apa yang dilakukan alam belum tentu sanggup kita pikirkan sebab dan akibatnya,” kata David Hu, seorang peneliti di institut Teknologi Georgia.
2. Kucing adalah hewan yang diciptakan untuk menyukai kebersihan
Organ-organ tubuh kucing diciptakan untuk mendukung keberhasilan.
– Otot yang terdapat pada kulit kucing berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia.
– Permukaan lidah kucing tertutupi sejumlah benjolan kecil yang runcing, benjolan ini berbentuk bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji, yang sangat berguna untuk membersihkan kulit dan bulu. Lidah kucing adalah alat pembersih yang paling canggih.
– Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”minuman”]
Mendukung hal ini, berbagai penelitian telah dilakukan terhadap berbagai jenis kucing. Dengan indikator yang berbeda, seperti usia, posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor.
Pada bagian-bagian tersebut diujicobakan pengambilan sample dengan usapan, kemudian penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Setelah kucing menjilati bagian tersebut, penelitian mengambil cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya. Hasil yang didapatkan adalah:
Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata tidak berkuman, meskipun dilakukan ujicoba berulang-ulang. Perbandingan pada bagian yang diberi kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil tidak berkuman. Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa, yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. (Kai/ian)






