Malang (beritajatim.com) – Di kota pendidikan seperti Malang, pertanyaan “Berapa sih uang saku ideal anak kuliah zaman sekarang?” seringkali memantik beragam jawaban. Terlebih dengan menjamurnya kafe kekinian seperti Fore, Calf, Robucca, maupun tempat lain yang acapkali menjadi markas mahasiswa untuk belajar, nongkrong, atau sekadar menikmati secangkir kopi.
Saya kemudian mencoba menelisik fenomena ini melalui serangkaian pertanyaan yang dilemparkan di akun-akun menfess (mention confess) media sosial X, menfess mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM). Hasilnya, realitas uang saku mahasiswa di Malang ternyata jauh lebih kompleks dan bervariasi dari dugaan.
Salah satu temuan paling mencolok adalah adanya distingsi signifikan antara mahasiswa perantau dan mahasiswa asli Malang (sering disebut ‘warlok’) dalam hal jumlah uang saku yang diterima. Pada akun menfess UB (@ubsansfess), misalnya, dari 63 jawaban dan 32 ribu tayangan, terlihat jelas perbedaan ini.
Mahasiswa perantau umumnya mendapatkan uang saku bulanan yang lebih besar. Akun @brightestrigel, yang uang saku bulanannya Rp1,5 juta, merasa jumlah tersebut cukup dan bahkan masih bisa untuk top-up game Mobile Legends serta “ngopi di beberapa tempat bagus macam Lafayette atau Jardin.”
Ia juga berbagi tips hemat, masak sendiri atau minimal masak nasi, lalu hanya membeli lauk. Makan di kafe elit pun hanya jika worth it dan tidak sering.
Berbeda dengan perantau, mahasiswa asli Malang, yang memiliki uang saku jauh lebih tipis. Akun @TeamSukuna, seorang “warlok”, mengaku hanya diberi Rp100 ribu per minggu, bahkan kadang kurang, namun harus bisa menutup seluruh kebutuhannya.
Sementara itu, pada postingan akun @um_fess saya menyebar pertanyaan yang mendapat 22,4 ribu tayangan, dengan 203 suka dan 129 tanggapan. Akun @shim dan @ra, keduanya asli Malang, menyebutkan uang saku mereka hanya sekitar Rp250-300 ribu per bulan. Jumlah ini dinilai cukup karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya kos dan uang tersebut hanya untuk kebutuhan pribadi.
Fenomena menarik lainnya adalah pola fluktuasi uang saku yang dialami beberapa mahasiswa, bahkan cenderung menurun seiring bertambahnya semester. Kisah dari akun @sshay_01 di menfess UM menjadi perbincangan hangat.
Ia mengungkapkan bahwa uang sakunya tidak pernah pasti: “dulu pas maba [mahasiswa baru] 4jt/week, semester 3 turun jd 2jt/week, semester 5 turun lg jd 1jt/week, semester 6 turun lg jd 500/week, semester 7 turun lg jadi 300/week, semester 8 turun jdi 200/week.” Pengakuan ini sontak mendapatkan 6 komentar terkejut dan total 5.400 tayangan.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, saya mewawancarai Azka Rasyad Alfatdi, Presiden Mahasiswa Universitas Brawijaya. Azka, mahasiswa Fakultas Hukum berusia 22 tahun dari Bogor, menjelaskan bahwa sebagai mahasiswa perantau yang ngekos, ia menerima uang saku Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan. Jumlah ini, menurutnya, “sangat cukup.”
“Dari awal tata kelola keuangan memang sudah diatur. Setiap bulannya saya selalu menyisihkan 5 sampai 20 persen dari uang bulanan untuk dana darurat, dan sisanya saya investasikan di deposito ataupun reksadana,” jelas Azka.
Mengenai pengeluaran harian, Azka memperkirakan rata-ratanya di bawah Rp100 ribu, meskipun bersifat fluktuatif. Untuk makan, ia biasa menghabiskan sekitar Rp20-25 ribu sekali makan di area sekitar UB. Aktivitas ngopi atau nongkrong, yang ia akui hampir setiap hari untuk ngopi produktif sambil mengerjakan skripsi, bisa menghabiskan sekitar Rp50 ribu sekali sesi jika berlangsung lama.
Azka juga menambahkan bahwa uang saku ideal untuk mahasiswa di Malang sangat tergantung pada kebutuhan dan gaya hidup masing-masing individu.
“Kalau menurutku Rp1 juta sampai Rp1,5 juta itu sudah cukup, malah kalau Rp1,5 juta ke atas sudah lebih dari cukup untuk buat invest atau kegiatan-kegiatan lainnya,” katanya. Ia menyoroti pengeluaran terbesar biasanya ada pada biaya ngopi di kafe dan kebutuhan organisasi mahasiswa.
Realitas Mahasiswa Lokal UM: Uang Saku Minimalis tanpa Kos
Dari UM, Abdul, mahasiswa semester 5 Prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, yang juga berasal dari Malang, mengaku uang sakunya tidak lebih dari Rp250 ribu per bulan. Jumlah ini dinilai sangat cukup karena ia tidak perlu mengeluarkan biaya kos.
Sementara itu, Naufal, mahasiswa UM asli Ponorogo (perantau), menyebutkan uang sakunya Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan sudah termasuk biaya kos. Namun, ia menambahkan, jumlah ini bisa lebih jika ada kebutuhan tak terduga seperti persiapan alat magang atau kegiatan kampus seperti praktik dan pameran karya.
Dari berbagai pengakuan ini, tergambar jelas bahwa uang saku mahasiswa di Malang memiliki besaran yang sangat beragam. Status tinggal (perantau atau lokal), gaya hidup, kemampuan mengelola keuangan, bahkan jenjang semester, semuanya berperan penting dalam menentukan kecukupan uang saku.
Meskipun fenomena ngopi menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup mahasiswa modern, banyak dari mereka yang tetap mampu mengelola keuangan dengan bijak. Kisah-kisah ini menjadi cerminan bahwa konsep uang saku ideal tidak bisa disamaratakan, melainkan sangat personal yang bergantung pada kebutuhan maupun prioritas setiap individu. [dan/beq]






