Banyuwangi (beritajatim.com) – Suasana haru menyelimuti Posko Evakuasi Korban KMP Tunu Pratama Jaya di Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Banyuwangi.
Di sudut ruangan, seorang perempuan paruh baya tampak tertunduk lemas, air mata tak henti membasahi pipinya.
Ia adalah Yatini (60), warga Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, yang kehilangan kabar sang suami tercinta, Fauzey Bin Awang.
Tangis Yatini pecah ketika mengetahui sang suami masuk dalam daftar korban tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) malam.
Fauzey, yang merupakan warga negara Malaysia, pamit pulang untuk kembali bekerja sebagai petugas keamanan di negeri jiran itu.
“Seharusnya hari ini dia terbang ke Malaysia. Tapi begitu dengar kabar kapal tenggelam, saya konfirmasi ke travel, ternyata suami saya ikut di situ,” tutur Yatini sambil terisak, Kamis (3/7/2025).
Didampingi saudara perempuannya, Sumiarni, Yatini tampak masih berharap cemas. Hingga Kamis sore, nama Fauzey belum juga tercatat dalam daftar korban yang berhasil dievakuasi.
“Tadi saya sudah ke bagian pelayanan evakuasi, tapi nama suami saya belum ada. Sampai sekarang belum ada kabar,” ungkapnya, menahan haru.
Sebelum kabar tenggelamnya kapal yang ditumpangi suaminya beredar, Fauzey sempat mengirimkan pesan singkat sebagai tanda pamit.
“Pukul 19.17 dia kirim pesan terakhir. Sempat telepon juga, cuma bilang kalau lagi di travel. Waktu sudah di kapal, tidak ada komunikasi lagi,” kata Yatini pelan.
Meski sadar peluang untuk menemukan sang suami dalam keadaan selamat kian tipis, Yatini masih menggantungkan harapannya pada tim penyelamat.
“Saya sangat berharap semoga pihak terkait dapat membantu menemukan suami saya. Apa pun keadaannya, saya ingin segera bertemu,” pungkasnya, sambil mengusap air mata.
Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga para penumpang. Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. (ayu/ted)






