Surabaya (beritajatim.com) – Sering kali kita keliru dalam mengartikan seseorang yang lebih suka menghabiskan waktu sendiri sebagai orang yang tidak suka bergaul atau pemalu. Namun, dalam psikologi, terdapat perbedaan yang penting antara seorang introvert yang memang memerlukan ketenangan dan individu yang memiliki sikap avoidant atau menghindar. Sementara introvert berhubungan dengan cara seseorang mengelola energi mentalnya, avoidant lebih merujuk pada mekanisme perlindungan diri karena ketakutan terhadap penolakan atau kedekatan emosional.
Pada dasarnya, seseorang yang introvert merasa nyaman dalam kesendirian, karena interaksi sosial yang berlebihan dapat membuat mereka cepat lelah. Bagi mereka, waktu sendiri adalah metode untuk mengisi kembali energi agar dapat melanjutkan aktivitas. Mereka tidak merasa takut terhadap orang lain, melainkan lebih memilih dengan cermat lingkungan dan percakapan yang dianggap bernilai. Di sisi lain, perilaku avoidant biasanya muncul bukan dari keinginan untuk tenang, tetapi sebagai cara untuk menghindari rasa cemas.
Orang-orang dengan gaya keterikatan avoidant sering kali membangun batas emosi yang tebal untuk menjauhkan diri dari orang lain. Meski di dalam hati mereka menginginkan kedekatan dan hubungan yang mendalam, ketakutan akan kritik, penilaian, atau ditinggalkan sering kali lebih menguasai. Akibatnya, mereka kerap menarik diri secara tiba-tiba ketika sebuah hubungan mulai menjadi lebih serius atau intim, sebagai langkah untuk melindungi diri dari kemungkinan rasa sakit di masa mendatang.
Perbedaan ini juga dapat dilihat dari cara mereka memandang diri mereka dalam konteks sosial. Seorang introvert umumnya merasa nyaman dengan identitasnya dan tidak memiliki perasaan negatif terhadap kebiasaan mereka untuk menyendiri. Sebaliknya, individu yang bersikap avoidant sering kali dibayangi oleh rasa rendah diri atau keyakinan bahwa mereka tidak layak dicintai. Mereka merasa bahwa jika orang lain mengetahui terlalu banyak tentang mereka, orang tersebut akan menemukan kekurangan mereka dan akhirnya memilih untuk menjauh.
Mengetahui perbedaan ini sangat penting agar kita tidak salah memberi penilaian kepada diri sendiri maupun orang lain. Menjadi seorang introvert adalah salah satu variasi kepribadian yang sehat dan wajar, sedangkan sikap avoidant seringkali dipicu oleh pengalaman masa lalu atau pola asuh yang perlu dipahami lebih dalam, bahkan kadang memerlukan bantuan profesional untuk diatasi. Dengan menyadari akar permasalahannya, kita bisa mulai belajar membedakan mana kebutuhan untuk beristirahat dan mana batasan yang mungkin justru menghambat perkembangan diri kita. [Nickma Tsany Byan Leonartha]






