Jakarta (beritajatim.com) – Di balik hadirnya salon keliling pertama untuk anak di Jakarta, ada sosok perempuan yang melihat satu hal sederhana yang sering luput dari perhatian banyak orang tua: kesehatan rambut dan kulit kepala anak.
Dia adalah Uung Victoria Finky, pendiri Moell, brand perawatan rambut anak yang belakangan menarik perhatian lewat konsep Salon Keliling Moell.
Bagi Uung, perawatan rambut anak bukan sekadar urusan membuat rambut terlihat rapi. Lebih dari itu, ia melihat hair care sebagai bagian dari kebiasaan menjaga diri yang dapat dibangun sejak usia dini.
Pandangan tersebut lahir dari pengalamannya sebagai seorang ibu yang melihat langsung bagaimana anak-anak menjalani aktivitas sehari-hari yang padat, mulai dari sekolah, bermain, hingga berinteraksi di luar rumah.
“Dari hal-hal sederhana seperti rambut yang nyaman dan kulit kepala yang sehat, anak bisa lebih percaya diri menjalani aktivitasnya,” ujar Uung.
Kesadaran itulah yang kemudian mendorongnya mendirikan Moell. Berbeda dari kebanyakan produk perawatan anak yang fokus pada tubuh secara umum, Moell memilih mengambil ceruk yang lebih spesifik, yakni kesehatan rambut dan kulit kepala anak.
Menurut Uung, kategori hair care anak di Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar untuk berkembang. Banyak orang tua mulai memahami pentingnya perawatan kulit, tetapi perhatian terhadap kesehatan kulit kepala anak masih relatif minim.
Melalui berbagai inovasi yang dilakukan, termasuk menghadirkan salon berjalan di tengah kota Jakarta, Uung mencoba menunjukkan bahwa perawatan rambut anak tidak harus menjadi aktivitas yang membosankan.
Ia justru melihat pengalaman menjadi faktor penting agar anak lebih mudah menerima rutinitas tersebut.
Selama pelaksanaan Salon Keliling Moell, Uung mengamati bagaimana anak-anak menikmati proses keramas dan styling rambut layaknya sedang bermain.
“Yang paling menarik justru melihat reaksi anak-anak. Mereka menikmati prosesnya tanpa merasa dipaksa menjalani rutinitas,” katanya.
Bagi Uung, masa depan industri perawatan anak tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga bagaimana sebuah brand mampu hadir lebih dekat dengan kehidupan keluarga modern.
Karena itu, ia meyakini inovasi ke depan tidak hanya lahir dari laboratorium, tetapi juga dari pemahaman terhadap kebiasaan dan kebutuhan keluarga sehari-hari.
“Dari pengalaman ini saya melihat hair care anak masih punya banyak ruang untuk berkembang. Bukan hanya dari produknya, tetapi juga dari bagaimana pengalaman itu bisa menjadi bagian dari keseharian anak,” tuturnya. (har/beq)






