Bondowoso (beritajatim.com) — Krisis air bersih masih menjadi persoalan serius bagi warga di sejumlah wilayah Kabupaten Bondowoso. Di Kecamatan Klabang, sebagian warga bahkan harus bertahan dengan memanfaatkan sungai hingga sumber air keruh untuk kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini mulai mendistribusikan bantuan air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo mengatakan, distribusi air bersih dilakukan di dua desa di Kecamatan Klabang, yakni Desa Blimbing dan Desa Karanganyar. “Masing-masing desa mendapatkan distribusi 5 ribu liter. Jadi total 10 ribu liter per hari,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Distribusi tersebut menjangkau 89 kepala keluarga di Desa Blimbing dan 317 kepala keluarga di Desa Karanganyar.
Menurut Kristianto, berdasarkan Surat Keputusan Siaga Darurat Kekeringan Tahun 2026, terdapat sembilan kecamatan di Bondowoso yang terdampak kekeringan. Total ada 13 desa, 20 dusun, dan 1.784 kepala keluarga yang terdampak.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Maesan, Prajekan, Klabang, Wringin, Tegalampel, Botolinggo, Tapen, Taman Krocok, Curahdami, dan Tlogosari. BPBD berencana melakukan distribusi air bersih selama 28 hari dengan total distribusi mencapai 280 ribu liter air bersih.
“Selanjutnya kami akan mengusulkan kepada BPBD Provinsi Jawa Timur agar distribusi air bersih bisa dilakukan hingga tiga bulan,” katanya.
Selain distribusi air bersih, BPBD juga menggandeng badan usaha dan yayasan untuk membantu penanganan kekeringan melalui program pembangunan sumur bor di wilayah rawan kekeringan.
Di tengah kondisi tersebut, warga Dusun Gadingan, Desa Blimbing, Uciyani menceritakan perjuangan warga mendapatkan air bersih selama bertahun-tahun. Ia mengaku, wilayahnya mulai mengalami kesulitan air sejak sekitar lima tahun lalu. Sebelumnya, warga sempat menikmati aliran air dari mata air setempat.
Namun distribusi terhenti setelah terjadi persoalan pengelolaan jaringan pipa air. “Dulu air lancar dari mata air, terus ada cekcok, paralonnya dicabut sama yang ngelola air. Jadi airnya tidak sampai ke sini,” ujarnya.
Untuk kebutuhan sehari-hari, warga harus mencari alternatif lain. Mencuci pakaian dilakukan di sungai yang berada di Dusun Duren, Desa Karanganyar. “Kalau nyuci harus ke sungai,” katanya.
Sementara untuk mandi, warga memanfaatkan sumber air yang dibuat menyerupai kolam tanah penampungan. “Airnya tidak mengalir. Dibuat tandon tanah seperti kolam. Airnya putih dan tidak jernih, jadi tidak dipakai minum,” ucapnya.
Meski demikian, bantuan air bersih dari pemerintah dinilai sangat membantu kebutuhan warga. “Sekali droping insya Allah cukup sampai seminggu,” katanya.
Hal serupa dirasakan Suhartini. Ia menyebut warga Desa Karanganyar telah sekitar empat tahun bergantung pada bantuan air bersih.
Sebelum ada distribusi, warga harus mengambil air ke sumur bor yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. “Bawa sepeda, sekali angkut dua jeriken besar ukuran 10 sampai 20 liter. Perjalanannya sekitar setengah jam,” ujarnya.
Menurutnya, bantuan air bersih kali ini juga diisi ke tandon umum agar dapat dimanfaatkan warga lain, terutama mereka yang bekerja di ladang sejak pagi hingga sore. “Nanti masyarakat yang pulang berladang bisa mengambil air dari tandon,” katanya. [awi/suf]






