Lamongan (beritajatim.com) – Tidak hanya terkenal dengan beragam kuliner dan garis pantainya yang menawan, Kabupaten Lamongan juga memiliki seni budaya yang memikat banyak perhatian publik. Salah satunya seni Kentrung Lamongan.
Kesenian ini terbilang mampu bertahan di tengah gempuran produk budaya modern dan kemajuan teknologi yang begitu gencar.
Berbeda dengan Kentrung asal daerah lain pada umumnya, Kentrung Lamongan ini ditampilkan secara monolog oleh seorang dalang yang juga merangkap sebagai panjak atau penabuh alat musik.
Seniman Lamongan, Deni Jazuli Juwaini, menjelaskan Kentrung Lamongan memiliki sederet kekhasan tersendiri yang tak dimiliki oleh kentrung dari daerah lain. Di antaranya, jenis alat musik yang dimainkan.
“Alat musik yang dimainkan oleh dalang adalah terbang atau rebana. Isi ceritanya pun memuat sejarah, syiar agama dan kebudayaan. Jadi Kentrung Lamongan ini tak hanya tontonan, tapi juga tatanan sekaligus tuntunan,” ujar Deni, Minggu (15/5/2022).
Selain beda jenis alat musiknya, ungkap Deni, Kentrung khas Lamongan ini juga ditampilkan secara monolog oleh dalang yang berjenis dalang ontang-anting. Dalang ontang-anting adalah dalang yang mampu menabuh alat musik sembari menuturkan alur cerita.
“Pola tutur cerita dalam Kentrung Lamongan ini sangat kuat. Tak hanya menyuguhkan parikan, namun juga syair-syair, selawat dan kalimat toyyibah,” sambungnya.

Mengenai irama musik yang mengiringi ceritanya, Deni menjelaskan, jika pukulan musik pada Kentrung Lamongan ini berpola tung-tung-dang. Meski sederhana, namun suspensi pukulannya mengikuti tangga dramatik alur cerita.
Sehingga, lanjut Deni, ritme tabuhannya bisa menjadi cepat dan penuh penekanan saat lakon cerita naik tangga dramatiknya. “Kostum yang dipakai dalang juga berciri khas, yakni jubah dengan sorban dan igal persegi,” imbuhnya.
Masih kata Deni, kentrung adalah kesenian yang begitu sakral bagi seorang dalang melakoninya. Sebelum tampil dan manggung, para dalang diharuskan menjalani beberapa ritual terlebih dahulu.
Adapun ritual tersebut, Deni menyebutkan, di antaranya adalah melakukan puasa 1 hari sebelum manggung, mencari informasi yang akurat tentang desa atau tempat yang akan dijadikan lakon dan latar cerita, baik dengan cara bertanya pada sesepuh desa atau dengan cara spiritual.
“Seorang dalang Kentrung Lamongan memang harus memiliki kesadaran tentang relasi atau hubungan antara dalang dengan Tuhan, manusia dan alam semesta,” paparnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Berita-Lamongan”]
Sayangnya, Deni mengaku, saat ini kentrung Lamongan semakin memudar semenjak ditinggal oleh dalang Kentrung Lamongan asal Kecamatan Solokuro yang sudah sangat legend. Dalang tersebut bernama Khusairi, yang sudah wafat beberapa waktu silam.
Nama Khusairi begitu melekat bagi para pecinta Kentrung Lamongan. Dulu, penampilan Khusairi selalu menyita perhatian publik dan membuat para penonton terkesima. Sehingga semenjak kepergiannya, hingga kini belum ada dalang penerus yang memiliki skill dan kemampuan sekelas Khusairi.
“Keberlanjutan sastra tutur kentrung Lamongan menjadi perhatian semua pihak, baik masyarakat, komunitas maupun pemerintah. Bila tidak ada satupun pihak yang berusaha untuk peduli, merawat dan melestarikannya, sudah dapat dipastikan kesenian Kentrung Lamongan akan tinggal cerita dan musnah tergerus zaman,” tutur Deni.
Upaya pelestarian itu di antaranya dengan menggelar pelatihan Kentrung Lamongan yang difasilitasi oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa timur pada beberapa waktu lalu. Pelatihan itu melibatkan dan menggandeng komunitas independen, komunitas kesenian pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.
“Pelatihan Kentrung Lamongan ini adalah usaha nyata untuk melestarikan Kentrung Lamongan yang hampir punah semenjak ditinggal wafat oleh dalang kentrung Lamongan H. Ahmad Kusairi,” beber Deni.
Deni beserta para pelaku lainnya di Lamongan berharap, pelatihan ini mampu menggugah kembali semangat berkesenian kentrung Lamongan di kalangan pemuda, pelajar, mahasiswa dan masyarakat Lamongan.
“Dulu, Kentrung Lamongan biasanya dimainkan saat ada hajatan seperti pernikahan, sunatan, dan tingkepan. Kentrung Lamongan juga biasa ditampilkan saat sedekah bumi, haul, serta peringatan lahirnya suatu daerah atau desa. Semoga kesenian khas Lamongan akan tetap lestari dan melekat di hati masyarakat Lamongan,” pungkasnya. [riq/beq]







