Surabaya (beritajatim.com) – August Mahieu, seorang keturunan Prancis, mendirikan “Komedie Stamboel” di Surabaya pada tahun 1891. Saat itu, Mahieu masih seorang pria muda berusia sekitar 30 tahun.
Mahieu pernah bersekolah di H.B.S. di Hindia Belanda, menyaksikan berbagai pertunjukan teater dan opera di Jawa dan luar negeri, memiliki bakat musik seperti banyak pemuda “Indo”, dan memiliki suara tenor yang bagus. Ditambah pengalaman hidupnya yang penuh petualangan di usia muda, menjelaskan ketertarikannya pada dunia teater yang akan ia ubah arahnya di Indonesia.
Pada masa itu, sudah ada kelompok teater khas Jawa yang mementaskan cerita-cerita kuno Hindu dengan gaya tradisional Jawa. Selain itu, ada juga teater Melayu yang diperkenalkan oleh orang Melayu dari Malaka, khususnya Johor, dikenal dengan nama “Abdoel Mauloek”.
Di beberapa kota besar Tionghoa, kelompok teater Tionghoa juga tampil dengan repertoar khusus. Namun, semua bentuk teater ini tidak memuaskan semua kalangan. Dan inilah yang ingin dicapai Mahieu.
Ia tidak bisa mengambil repertoar dari teater Jawa karena tidak menarik bagi orang Indonesia di luar Jawa. Demikian pula dengan teater Tionghoa atau Eropa. Ia harus mengambil jalan tengah agar bisa menyajikan seni atau hiburan untuk semua orang, termasuk dari segi finansial.
Mahieu, seperti dikatakan di sini, memiliki “tangan dingin” (keberuntungan). Ia paham bahwa imajinasi orang Timur terwakili dengan baik dalam cerita “Seribu Satu Malam” yang terkenal.
Dari sinilah ia mengambil dasar untuk lakon-lakon teaternya. Kostum Timur yang penuh warna, keajaiban dalam cerita-cerita fantastis, kehidupan mewah para raja dan bangsawan India—semua itu sangat cocok untuk dijadikan drama bagi masyarakat Indonesia.
Namun, untuk orkestra, dekor, dan panggung, Mahieu tetap mengikuti metode Eropa. Kostum dibuat sesuai gaya Timur dengan ciri khas fez merah dan serban putih—dengan atau tanpa hiasan bulu—yang dikenakan para aktor. [but]
*) Terjemahan bebas dari tulisan G.H. von Faber (Direktur Pendidikan Umum) yang dimuat di koran berbahasa Belanda “De Vrije Pers” (4-12-1948).






