Surabaya (beritajatim.com) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra menggelar webinar dengan tema “Khazanah Pengetahuan Seksualitas Masyarakat Nusantara”, Selasa (6/6/2023).
Dalam webinar ini, menghadirkan pemantik dari Guru Besar Universitas Hasanuddin, Muhlis Hadrawi. Dalam materinya ia menjelaskan apa itu naskah pengetahuan seksual Assikalaibineng dari Bugis.
“Secara etimologi, Assikalaibineng berasal dari rangkaian kata ak+si+ka+lai, yang berarti jantan, dan bine yang dimaknai sebagai betina atau bibit. Kemudian keduanya diselaraskan menjadi manusia laki-laki dan perempuan,” terangnya.
Dengan kata lain, Assikalaibineng merupakan pengetahuan seksualitas dari Bugis yang menyatukan beragam unsur. Mulai dari lahiriyah dan batiniah antara laki-laki dan perempuan, yang disebut juga dengan eppa’ sulapa yakni penyatuan tubuh dengan tubuh, hati dengan hati, dan nyawa dengan nyawa.
Dalam naskah Assikalaibineng ini sangat menjunjung tinggi sebuah kemuliaan. Sehingga dalam berhubungan seksualitas antara suami dan istri harusnya dengan saling menghargai, penuh kesabaran, ketenangan, dan kehati-hatian. Sebagaimana tuntunan tentang tata cara hubungan seksual yang dijelaskan di dalamnya. Tak hanya harus baik, benar, dan juga bermutu, melainkan juga harus mulia.
BACA JUGA: Tayang Perdana, Ini Jadwal Film Transformers: Rise of The Beasts di Surabaya Hari Ini
Muhlis juga memberikan contoh bagaimana cara memuliakan pasangan. Salah satunya dengan mengucapkan doa ketika hendak berhubungan suami istri. Serta perbanyak mengagungkan Tuhan sepanjang aktivitas berlangsung.
“Hal ini tidak hanya untuk menghindari ikut campurnya setan, tetapi juga untuk menjaga hubungan berjalan lebih lama. Tidak hanya diburu oleh nafsu dan kebutuhan biologis semata,” jelasnya.
Selain itu, ada juga hal yang perlu dihindari, misalnya berhubungan seksual di saat istri tengah tidur atau dalam keadaan tidak memungkinkan, maka hal tersebut sama halnya seperti budak karena tidak memuliakan pasangan.
Apabila hal ini tetap dilakukan dan ternyata terjadi pembuahan. Secara psikologis akan mempengaruhi kecerdasan sang anak nantinya. Tak ayal jika memuliakan pasangan sangat diutamakan dalam naskah Assikalaibineng.
Peneliti PR KKP-BRIN, Abu Muslim pun menambahkan dalam materinya, bahwa dalam dalam behubungan seksual tidak melulu mendapatkan kenikmatan, melainkan juga keberkahan.
“Assikalaibineng tidak sekadar nikmat, diperlukan pula khidmat. Nikmat boleh jadi sasaran keinginan. Sedangkan khidmat merupakan pencapaian. Karena nikmat belum tentu khidmat, tapi khidmat sudah pasti nikmat,” ujarnya. (fyi/nap)






