Blitar (beritajatim.com) – Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi balita stunting di Kabupaten Blitar mencapai 16,1 persen. Angka tersebut belum sesuai dengan target Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar.
Masih tingginya angka stunting ini disebabkan oleh kualitas konsumsi makanan balita. Selama ini, balita di Blitar masih banyak mengkonsumsi makanan instan dan tak sehat. Sehingga angka stunting anak di Blitar masih mencapai 16,1 persen.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mengakui masih ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang harus dibenahi. Salah satunya adalah kualitas konsumsi makanan pada balita. Jenis makanan tidak sehat yang dimaksud adalah makanan instan, mengandung bahan pengawet, pewarna buatan, dan tidak memenuhi standar gizi balita.
“Alhamdulillah memang ada penurunan sebesar 4,2 poin. Tapi harapan kami, paling tidak angkanya bisa di bawah 14 persen. Namun, dari data yang kami lihat, 48 persen balita di Jawa Timur masih mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Ini sangat mempengaruhi kondisi gizi anak, termasuk di Blitar,” ujar Subko Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kabupaten Blitar, Etti Suryani, Kamis (29/5/2025).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar menekankan perlunya penguatan edukasi di level keluarga. Para ibu pun harus diberikan pemahaman tentang pentingnya kualitas makanan yang dikonsumsi oleh balita dan anak.
Sosialisasi memang telah dilakukan melalui berbagai posyandu dan forum, tetapi penerapannya masih belum optimal. Oleh karena itu, Dinkes Kabupaten Blitar akan memperkuat kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah desa, kader kesehatan, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Penanganan stunting ini memang kami tidak bisa berdiri sendiri. Artinya harus ada kerja sama, kalau yang di kabupaten level OPD, kalau di kecamatan yang di level kecamatan, termasuk juga yang di desa. Bahkan, desa serta kader dan lintas sektor terkait itu bisa mengupayakan kesehatan balita secara umumnya, termasuk juga dalam penanganan stunting,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, dr Chistine Indrawati, juga mengamini pentingnya edukasi soal pola asuh. Dia menyebut pola pengasuhan yang kurang tepat menjadi penyumbang terbesar kasus stunting.
“Upaya kami masih tetap, salah satunya terus menggenjot sosialisasi. Karena dari evaluasi, masalah terbesar ada pada pola asuh. Sebab, masih banyak anak yang belum naik kelas dari stunting, atau bahkan muncul kasus baru. Ini tantangan kita bersama,” jelasnya.
Meski sudah lebih baik dari tahun lalu, prevalensi stunting Kabupaten Blitar masih lebih buruk jika dibanding daerah tetangga seperti Kabupaten Kediri mencapai 6,9 persen dan Trenggalek dengan 5,7 persen. Namun, Tulungagung tidak berbeda jauh yakni 11,5 persen, sedangkan dengan Kota Blitar terpaut jauh, 9,5 persen.
“Kita patut bersyukur karena sudah turun, tapi belum bisa berpuas diri. Target ke depan, kita ingin minimal di bawah rata-rata provinsi yang tahun ini mencapai 12,1 persen angka prevalensi stunting,” pungkasnya. [owi/beq]






