Teheran – Majelis Pakar Iran dilaporkan telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang meninggal dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Informasi tersebut pertama kali diungkap media Iran International yang mengutip sejumlah sumber terpercaya. Namun hingga kini, media pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait hasil pemilihan tersebut.
Laporan itu menyebutkan, proses pemungutan suara berlangsung di kota suci Qom, bahkan di tengah situasi keamanan yang memanas akibat serangan udara Israel yang menghantam gedung tempat Majelis Pakar melakukan penghitungan suara.
Jika benar terjadi, penunjukan ini akan menjadi momen bersejarah sekaligus kontroversial. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Islam Iran, kepemimpinan tertinggi berpindah secara turun-temurun dari ayah ke anak dalam sistem teokrasi yang selama ini mengedepankan legitimasi ulama senior.
Suksesi di Tengah Krisis
Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama 37 tahun, dilaporkan tewas pada 28 Februari dalam operasi militer gabungan AS-Israel di Teheran. Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menyebut serangan tersebut sebagai “Operasi Epic Fury”.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Khamenei pada 1 Maret, bersama sejumlah anggota keluarga dan komandan militer senior.
Pasca wafatnya Khamenei, dewan kepemimpinan sementara segera dibentuk untuk menjaga stabilitas pemerintahan. Dewan tersebut terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Badan Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, serta ulama Dewan Wali Alireza Arafi.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan proses pemilihan pengganti hanya memerlukan “satu atau dua hari”. Namun, situasi berubah ketika Israel dilaporkan menyerang gedung Majelis Pakar di Qom saat penghitungan suara berlangsung.
Seorang pejabat pertahanan Israel yang dikutip Axios mengatakan, “Kami ingin mencegah mereka memilih pemimpin tertinggi yang baru.” Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi mengonfirmasi adanya serangan tersebut, sementara Kantor Berita Mehr menyebut gedung itu dalam keadaan kosong saat serangan terjadi.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei dikenal sebagai ulama Syiah tingkat menengah berusia pertengahan 50-an yang selama ini berperan sebagai figur berpengaruh di lingkaran dalam kekuasaan ayahnya. Ia memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam sejak era Perang Iran-Irak.
Pada 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba karena dianggap “mewakili pemimpin tertinggi dalam kapasitas resmi meskipun tidak pernah dipilih atau diangkat ke posisi pemerintahan”. Pemerintah AS saat itu juga menyatakan bahwa Khamenei senior telah “mendelegasikan sebagian tanggung jawab kepemimpinannya” kepada putranya.
Meski memiliki pengaruh besar, Mojtaba tidak menyandang gelar ulama setingkat ayatollah dan tidak memiliki pengalaman pemerintahan formal. Kondisi ini dinilai dapat memunculkan perdebatan soal legitimasi keagamaan dan politik dalam tradisi keilmuan Syiah Iran.
Media pemerintah China, Xinhua, melaporkan Mojtaba dalam kondisi sehat dan “meninjau urusan-urusan penting negara”, meski tidak secara eksplisit mengonfirmasi pemilihannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Hingga kini, publik Iran dan komunitas internasional masih menunggu pengumuman resmi terkait kepemimpinan baru di Teheran di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat. (ted)






