Pamekasan (beritajatim.com) – Menko Polhukam Prof Mahfud MD, mengapresiasi ide dan gagasan Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA) tentang model pembangunan Madura untuk Indonesia.
Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan dalam Silaturrahmi dan Halal Bihalal BASSRA di Gedung Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Se-Madura (P4TM), Jl Raya Blumbungan, Larangan, Pamekasan, Sabtu (27/5/2023).
Terlebih tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut, juga menjadi poin penting sebagai bentuk komitmen menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni ‘Berhikmad Bersama dari Madura untuk Indonesia’.
“Selama ini Madura sudah melahirkan banyak generasi yang berhikmad untuk bangsa, kalau Madura untuk Indonesia bisa dicatat dalam tinta sejarah. Sekarang tinggal apa yang harus dilakukan untuk Indonesia, bagaimana keadaan sekarang, dan harus melakukan apa,” kata Prof Mahfud MD.
Bahkan dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan jika orang Madura juga berpartisipasi aktif dalam kemerdekaan dan tercatat dalam tinta sejarah perjuangan bangsa.
“Pada era pra kemerdekaan, Madura sudah memberikan sumbangan besar untuk bangsa. Salah satunya melalui M Tabrani yang terlibat langsung dalam rencana pendirian bangsa melalui ide tanah air satu, bangsa satu, dan bahasa satu pada 1928,” ungkapnya.
Baca Juga:
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/pemkab-pamekasan-raih-predikat-wtp-ke-9-secara-beruntun/
Selain itu, langkah perjuangan juga dilakukan dari pesantren melalui gerakan memerdekakan bangsa. Bahkan gerakan tersebut juga terpusat di Madura, yakni Syaikhona Kholil Bangkalan.
“Dari pesantren ini muncul semangat hubbul wathan minal iman, sebuah ungkapan yang memberikan motivasi dan spirit untuk kemerdekaan bangsa. Dari kalangan pesantren ini, akhirnya muncul tokoh pesantren seperti KH As’ad Syamsul Arifin, KH Hasyim Asy’ari, KH Mohammad Dahlan, dan lainnya,” jelasnya.
Tidak kalah penting, sejarah juga mencatat jika orang Madura, juga mampu berkontribusi untuk bangsa pada setiap era. “Saat pra kemerdekaan ada M Tabrani, saat perang ada Halim Perdana Kusuma, yang tercatat sebagai TNI Angkatan Udara, pasca kemerdekaan ada Mohammad Noer (Gubernur Jatim),” imbuhnya.
“Secara prinsip, ide dan gagasan BASSRA ini diangkat pada era 90-an ketika menyikapi rencana industrialisasi. Pernyataan sikap yang disampaikan kepada BJ Habibie, pembangunan Madura dan bukan pembangunan di Madura,” sambung Mahfud MD.
Hal ini ditunjukkan dengan jenis dan model yang direkomendasikan BASSRA. “Sikap BASSRA yang disampaikan kepada BJ Habibie, tentang ciri Madura. Pertama islami, kedua nilai kebangsaan dan ke-indonesia-an, serta selalu menjaga kearifan lokal,” pungkasnya.
Silaturrahmi dan Halal Bilahal BASSRA dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Prof Mahfud MD juga hadir Prof Achsanul Qosasi (anggota BPK RI), Emil Listanto Dardak (Wakil Gubernur Jatim), Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Farid Makruf, dan lainnya.
Selain itu juga terdapat jajaran pengurus maupun anggota BASSRA, di antaranya KH Mohammad Rofi’i Baidowi dan KH Mudatasir Badruddin (Pamekasan), KH Syafik Rofi’i, KH Makki Nasir dan KH Imam Bukhori (Bangkalan), KH Ahmad Fauzi Tidjani dan KH M Sholahuddin Abd Waris (Sumenep), KH Mahrus Malik dan KH Syafi’ Wahid (Sampang). [pin/ted]






