Malang (beritajatim.com) – Inovasi dan pemberdayaan masyarakat kembali ditunjukkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, puluhan ibu-ibu di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, mendapatkan pelatihan untuk menyulap jahe, rempah yang biasa ditemui di dapur, menjadi produk inovatif berupa permen sehat dan jamu modern yang berpotensi memiliki nilai jual.
Kegiatan yang dilaksanakan pada awal Agustus ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga tradisi minum jamu, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga setempat. Para mahasiswa melihat potensi jahe yang melimpah di desa tersebut bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih praktis dan menarik.
“Melalui program ini, kami mencoba menjawab tantangan kesehatan masyarakat dengan memanfaatkan herbal lokal sebagai solusi alami, praktis, dan terjangkau,” ungkap Yenis Risqi Amiliya, koordinator mahasiswa KKN pada beritajatim.com, Rabu (20/8/2025).
Menurut Yenis, kegiatan ini merupakan wujud nyata dari komitmen UMM untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat di bangku kuliah. Tujuannya agar bisa menjadi solusi langsung atas persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Dalam sesi pelatihan, para peserta tidak hanya diberi teori, tetapi juga diajak praktik langsung. Abdur Rokhim, salah satu mahasiswa, memaparkan secara rinci berbagai khasiat jahe yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal oleh warga.
Beberapa manfaat utama jahe yang dijelaskan antara lain: meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan sistem pencernaan, dan membantu meredakan kelelahan dan nyeri otot Setelah pemaparan, Abdur Rokhim memandu langsung proses pembuatan permen jahe.

Inovasi ini disambut antusias karena mengubah jahe yang identik dengan minuman hangat menjadi camilan sehat yang bisa dinikmati kapan saja. Selain itu, para mahasiswa juga mendemonstrasikan cara meracik jamu tradisional dengan teknik yang tepat agar khasiatnya tetap terjaga.
Para peserta yang terdiri dari Kader Posyandu, perwakilan RW, dan warga sekitar juga dibekali brosur berisi panduan praktis yang bisa mereka pelajari kembali di rumah. Acara menjadi lebih interaktif saat sesi mencicipi produk.
Jamu jahe yang baru dibuat langsung dibagikan, memberikan kesegaran dan kehangatan bagi para peserta. Permen jahe yang unik pun menjadi primadona karena rasanya yang manis, pedas, dan menyegarkan.
“Pemanfaatan herbal bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga langkah cerdas untuk membangun gaya hidup sehat dengan cara yang alami, sederhana, dan terjangkau,” tegas Abdur Rokhim.
Lebih dari sekadar pelatihan kesehatan, program ini diharapkan dapat membuka mata warga Desa Wonoasri terhadap potensi ekonomi dari olahan jahe. Dengan kemasan yang menarik dan pemasaran yang tepat, permen jahe ini bisa menjadi produk unggulan desa yang memberikan penghasilan tambahan bagi para ibu rumah tangga.
Kegiatan ini berhasil dilaksanakan berkat kerja sama tim yang solid, terdiri dari Yenis Risqi Amiliya, Tjokorda Putri Saraswati, Salsabila Izhar Aulani, Dela Sovia Agustin, dan Devina Rafika Fitri, di bawah bimbingan Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Nawang Sulistyani, M.Pd. (dan/ian)






