Hari-hari ini, kita dipaksa menyaksikan sebuah panggung politik yang riuh tapi hampa. Istana dipenuhi hiruk-pikuk klaim keberhasilan, baliho parpol bertebaran memamerkan senyum palsu, dan kursi kepresidenan diperebutkan seolah itu adalah warisan yang boleh dibagi-bagi di bawah meja. Namun, di balik kemegahan artifisial itu, ada kekosongan yang menganga.
Jika kita berani menengok ke belakang dan membenturkan realitas hari ini dengan falsafah kepemimpinan Nusantara—katakanlah, membandingkannya dengan jejak Panembahan Senopati sebagaimana direkam dalam *Serat Wedatama*—kita akan menemukan kontras yang mengenaskan. Kepemimpinan modern kita hari ini bukan sekadar berbeda gaya, melainkan mengalami kebangkrutan moral dan spiritual yang akut.
Pertama, Filosofi Kekuasaan yaitu antara laku prihatin vs nafsu berkuasa yang rakus. Dalam tradisi yang dihidupkan Panembahan Senopati, kekuasaan adalah beban spiritual yang menuntut pengorbanan personal.
Untuk menjadi pemimpin yang ‘among’ (mengayomi), seorang calon raja harus melakoni ‘laku prihatin’—mengurangi makan, mengurangi tidur, menekan hawa nafsu, dan bertapa. Kekuasaan diraih dengan cara mengerdilkan ego.
Lalu dimana kita hari ini? Sumpah serapah politik hari ini justru menunjukkan kebalikannya. Kepemimpinan masa kini digerakkan oleh nafsu berkuasa yang rakus dan vulgar. Pemimpin tidak mengurangi tidurnya untuk memikirkan rakyat, melainkan begadang demi menyusun strategi ‘cawe-cawe’ pemilu berikutnya. Pengosongan diri diganti dengan pemuasan diri. Istana bukan lagi tempat bertapa untuk mencari pencerahan, melainkan ruang negosiasi lapak dagangan politik.
Kedua, Sosiologi Hubungan: Ikatan Batin vs Komoditas Elektoral
Panembahan Senopati, dalam narasi historis-mitologisnya, rela berkelana jauh hingga ke pelosok Pacitan, bukan untuk mencari panggung kamera, melainkan untuk menyatukan frekuensi batinnya dengan rakyat (manunggaling kawula-Gusti). Hubungan pemimpin dan rakyat bersifat emosional dan sakral.
Bandingkan dengan hari ini. Hubungan antara presiden, partai politik, dan rakyat telah merosot menjadi hubungan fungsional yang transaksional dan sinis. Rakyat hanya dianggap penting setiap lima tahun sekali sebagai angka di lembar kertas suara.
Parpol bertindak layaknya makelar tiket kekuasaan yang memperdagangkan rekomendasi.
Presiden bertindak seperti manajer korporasi yang sibuk mengamankan investasi, sementara tangisan rakyat di akar rumput dianggap sebagai “gangguan stabilitas”.
Blusukan yang ada hari ini bukanlah laku prihatin melainkan gimmick kosmetik demi rating survei dan konten media sosial. Nilainya benar-benar kosong dari ketulusan batin.
Ketiga, Mandat Kekuasaan: Wahyu Spiritual vs Kompromi Oligarki
Panembahan Senopati mengejar wahyu atau pulung melalui keluhuran budi dan legitimasi transendental. Kekuasaan dipahami sebagai mandat suci dari Tuhan yang pertanggungjawabannya menembus batas duniawi.
Sementara itu, presiden dan elite parpol modern bangga dengan mandat “konstitusional” dan “demokrasi”. Namun mari kita jujur: konstitusi kita telah dibajak. Demokrasi kita telah disuntik mati oleh kepentingan oligarki.
Mandat yang didapatkan penguasa hari ini bukan turun dari langit karena keluhuran budi, melainkan lahir dari rahim kongkalikong modal, bagi-bagi sembako, dan hukum yang ditekuk demi kepentingan keluarga atau golongan. Pertanggungjawaban kepada rakyat dihancurkan oleh tebalnya tembok imunitas dan koalisi gemuk yang mengebiri fungsi kontrol parlemen.
Keempat, Manajemen dan Budaya: Olah Rasa vs Pragmatisme Buta
Manajemen kepemimpinan masa lalu berbasis pada olah rasa—ketajaman intuisi moral untuk menjaga harmoni semesta. Hari ini, manajemen negara diagungkan sebagai sesuatu yang “rasional, terukur, dan teknokratis”. Namun, di bawah kedok rasionalitas itu, yang bekerja sebenarnya adalah pragmatisme buta.
Kebijakan publik tidak lagi diukur berdasarkan apakah ia membawa kemaslahatan atau keadilan, melainkan apakah ia menguntungkan kelompok kapital atau tidak. Kebudayaan hanya dijadikan komoditas retorika saat pidato kenegaraan, sementara perilakunya sangat jauh dari nilai luhur peradaban.
Pada akhirnya membandingkan penguasa hari ini dengan Panembahan Senopati memperlihatkan satu kesimpulan yang pahit: kita sedang dipimpin oleh struktur yang megah namun kehilangan jiwa.
Kita memiliki presiden, kita memiliki menteri, kita memiliki ratusan anggota DPR dan pengurus parpol.
Mereka memiliki hukum, anggaran, dan aparat. Namun, jika semua instrumen modern itu dijalankan tanpa moralitas, tanpa rasa prihatin, dan tanpa ikatan batin dengan rakyat, maka seluruh bangunan politik kekuasaan hari ini sebenarnya ‘benar-benar kosong’.
Kita tidak sedang dipimpin oleh seorang Negarawan, melainkan oleh para pemburu rente yang kebetulan sedang memegang stempel kekuasaan negara.
Lucunya, pemimpin yang satu kalau di tanya jawabnya: “Ya saya tidak tahu. Kok tanya saya he he he, dengan muka sok innocent” .Yang satu lagi jika di kritik jawabnya: “nye nye nye nye, dengan bibir ngece”. [Hadipras, pengamat sosial dan politik]

as a preferred source on Google




