Malang (beritajatim.com) – Permasalahan limbah rumah tangga seperti minyak jelantah masih menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Jika dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, minyak bekas pakai ini bisa mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia.
Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi solutif dengan menyulap minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Alvinda Wijaya, akrab disapa Jo, mahasiswa semester lima yang memimpin proyek ini bersama timnya, mengatakan bahwa ide tersebut berangkat dari tugas mata kuliah Gerakan Sosial yang dibimbing oleh dosen Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si. Mereka memilih minyak jelantah sebagai bahan utama pembuatan lilin karena sifatnya yang merusak jika tidak dikelola dengan benar.
“Minyak jelantah ini kan salah satu limbah rumah tangga yang bisa dibilang susah dan merusak. Ini bisa merusak lingkungan karena biasanya dibuang di jalan atau tanah, dan juga berbahaya bagi tubuh,” ungkap Jo saat diwawancarai, Jumat (13/6/2026).

Selain mengolah limbah, tim mahasiswa ini juga menggagas kegiatan edukasi masyarakat. Mereka menggandeng warga Desa Kayu Kebek untuk belajar membuat lilin dari minyak bekas. Menurut Jo, bahan-bahan yang digunakan relatif mudah ditemukan dan prosesnya bisa dipelajari oleh masyarakat luas.
Minyak jelantah terlebih dahulu dijernihkan menggunakan arang aktif atau dengan proses pemanasan bersama bawang bombay, lalu dicampur dengan bleacher agar tidak berbau menyengat. “Kalau baunya masih kuat, bisa digoreng dulu sama bawang bombay, baru ditambah empat sendok bleacher sambil terus diaduk sampai nggak menggumpal,” jelas Jo.
Dalam proses pembuatannya, minyak jelantah dicampur dengan stearic acid sebagai pengeras dan essential oil atau fragrance oil untuk menciptakan aroma. Hasil akhirnya bukan hanya lilin penerang, tetapi juga lilin aromaterapi yang dapat menciptakan suasana relaksasi.
Jo mengakui bahwa proyek ini menghadapi tantangan di awal pelaksanaan, terutama saat melakukan sosialisasi kepada ibu-ibu PKK dan mencari komposisi bahan yang tepat.
“Tantangan membuat lilin saat pertama kali itu harus memikirkan rumus yang tepat, seperti berapa gram stearic acid dan essential oil-nya. Belum lagi kalau minyaknya masih bau, itu PR juga,” katanya.
Selain nilai fungsi dan lingkungan, lilin aromaterapi ini juga memiliki nilai estetika. Produk bisa dihias dan dikemas dalam bentuk menarik, membuatnya layak dipasarkan, khususnya untuk konsumen yang menyukai produk berkelanjutan dan unik.
Dari sisi pemasaran, tim menargetkan sektor hospitality seperti hotel dan tempat spa. Mereka juga mempertimbangkan penjualan secara daring untuk memperluas jangkauan konsumen.
“Kami ingin produk ini jadi bagian dari gerakan peduli lingkungan. Harapannya, masyarakat bisa ikut terlibat, jadi ada hilir dari inovasi ini. Jangan berhenti di kampus saja,” tutur Jo. [dan/beq]






