Kediri (beritajatim.com) – Mahasiswa MMD-DM PSDKU Universitas Brawijaya Kediri menghadirkan inovasi pestisida alami berbahan dasar kulit bawang sebagai solusi ramah lingkungan untuk lahan pertanian Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Program ini merupakan salah satu kegiatan unggulan dalam rangkaian “MMD/MMD-DM UB 2025” yang bertujuan mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia serta mendorong praktik pertanian berkelanjutan.
“Kalau di sini, masih banyak sampah organik yang tidak diolah dengan baik, terutama kulit bawang dari dapur rumah tangga. Akhirnya sampah itu hanya dibuang begitu saja dan menumpuk,” ujar Ibu Mujiati selaku warga Desa Wonoasri, dalam sesi diskusi bersama mahasiswa, pada sabtu (5/7/2025) .
Program ini lahir dari keprihatinan atas penumpukan sampah organik yang tidak dimanfaatkan. Melalui pendekatan sederhana namun bermanfaat, mahasiswa MMD-DM UB menciptakan inovasi pestisida alami berbahan kulit bawang. Pestisida ini memanfaatkan kandungan alami kulit bawang untuk mengendalikan hama tanaman, sekaligus menjadi solusi pengolahan sampah organik agar tidak mencemari lingkungan.
Pestisida ini dibuat dengan memanfaatkan kulit bawang yang biasanya dibuang sebagai limbah dapur. Melalui proses perendaman dan penyaringan sederhana, dihasilkan larutan alami yang dapat mengusir hama tanpa meninggalkan residu berbahaya. Mahasiswa bersama anggota KWT melakukan pelatihan pembuatan pestisida, uji coba pada lahan pertanian, serta pemantauan efektivitasnya dalam melindungi tanaman sayuran.
Keunggulan inovasi ini tidak hanya terletak pada proses pembuatannya yang mudah, tetapi kulit bawang sendiri kaya akan senyawa sulfur, flavonoid, dan quercetin yang bersifat antimikroba dan mampu mengusir berbagai jenis hama seperti ulat, kutu daun, dan thrips. Kulit bawang juga tidak mengandung bahan kimia, sehingga tidak meninggalkan residu pada tanaman. Mengolah kulit bawang menjadi pestisida juga dapat membantu mengurangi jumlah limbah organik yang dibuang dan meningkatkan nilai guna bahan sisa rumah tangga.
Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap, dimulai dengan pengumpulan kulit bawang dari limbah rumah tangga, perendaman selama 24 jam, dan terakhir proses penyemprotan pestisida yang telah jadi pada tanaman bersama dengan ibu-ibu KWT. Mahasiswa berinteraksi bersama warga dalam mengembangkan inovasi ini, untuk memastikan inovasi ini benar-benar dapat diterima dan dipahami oleh para masyarakat serta dapat menjadi teknologi yang berkelanjutan.
Menurut Prof. Dr. Ir. Mohamad Fadjar, M.Sc. selaku Dosen Pembimbing Lapangan, penerapan inovasi pestisida alami berbahan dasar kulit bawang merupakan langkah strategis untuk membangun sistem pertanian desa yang berkelanjutan. Beliau, menambahkan bahwa pendekatan mahasiswa MMD-DM sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta poin ke-15 mengenai pelestarian ekosistem daratan. Melalui inovasi ini, diharapkan masyarakat desa dapat beralih ke praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, meminimalkan penggunaan bahan kimia berbahaya, serta menjaga keseimbangan alam untuk generasi mendatang, dan dapat terus digunakan setelah program berakhir.
Pengembangan inovasi pestisida alami ini hadir dari kekhawatiran terhadap dampak negatif pestisida kimia, seperti kerusakan ekosistem, penurunan kesuburan tanah, dan risiko kesehatan bagi manusia. Dengan biaya pembuatan yang rendah serta bahan baku yang mudah diperoleh dari rumah tangga maupun pasar tradisional, pestisida ini menjadi alternatif yang aman, ekonomis, dan ramah lingkungan.
Melalui program MMD-DM PSDKU UB 2025, mahasiswa dapat berkontribusi aktif dalam mendukung kegiatan pertanian yang nyata dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang baik bagi para petani yang ada di Desa Wonoasri. Inovasi seperti pestisida alami berbasis kulit bawang juga dapat memudahkan para petani agar tidak selalu menggunakan pestisida berbahan kimia, sehingga nantinya akan dapat mengurangi biaya pengobatan dan biaya maintenance lingkungan.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, kegiatan ini juga membawa dampak sosial karena berhasil mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan pengobatan tanaman yang baik dalam kegiatan ekonomi. Mahasiswa berharap, program ini menjadi pijakan awal untuk pengembangan klaster pertanian ramah lingkungan di Desa Wonoasri yang bisa direplikasi di desa-desa lain. Dengan semangat mengabdi dan berkarya, kelompok MMD-DM UB berkomitmen terus menggali potensi lokal dan menjawab tantangan desa melalui ilmu pengetahuan dan inovasi yang berdampak nyata.






