Malang (beritajatim.com) – Di tengah perasaan haru menjelang kepulangan ke Amerika Serikat besok, pujian datang dari salah seorang peserta program Critical Language Scholarship (CLS) ke-16 di Universitas Negeri Malang (UM). Lily Waskiewicz, mahasiswi asal Ohio University, tanpa ragu memberikan skor sempurna 10/10 untuk pengalaman belajarnya.
Testimoni ini menjadi bukti kuat bagi kualitas program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang diselenggarakan oleh UM. Bagi Lily, yang baru saja merampungkan seluruh rangkaian kelasnya pada 13 Agustus lalu, keputusan untuk mendalami Bahasa Indonesia didasari oleh cita-cita luhurnya.
“Saya ingin bekerja di bidang hukum internasional dan hak asasi manusia. Saya sadar, jika ingin bekerja di level internasional, saya harus tahu budaya dan bahasa lain selain Bahasa Inggris,” ujar Lily saat diwawancara, Kamis (14/8/2025) malam.
Pengalaman dua bulan di Malang rupanya jauh melampaui ekspektasinya. Ia merasakan kemajuan pesat pada kemampuan berbahasanya, dari yang ia nilai sendiri berada di level 3 atau 4 dari 10 sebelum datang, kini ia merasa sudah mencapai level 7. Namun, yang paling membuatnya terkesan adalah program itu sendiri.
“Untuk program ini, ratingnya 10 dari 10,” tegas Lily. “Ini tulus. Para staf dan guru menunjukkan bahwa mereka benar-benar ingin kami sukses. Pak Tom dan Pak Gatut sangat lucu dan pintar.” Saking terkesannya, Lily mengaku sedih harus meninggalkan Malang. “Saya tidak mau pulang,” ucapnya lirih.
Perasaan betah yang sama juga dirasakan oleh peserta lainnya, Karissa Sitepu. Mahasiswi jurusan Musik dan Komputer dari Vanderbilt University ini mengaku sangat terkesan dengan aspek budaya dan sosial di Malang yang hangat. Menurutnya, budaya komunal di Indonesia sangat berbeda dengan di Amerika.
“Orang di sini sangat senang berteman dan nongkrong. Kalau di Amerika, budayanya lebih individualistis,” tutur Karissa. Namun, ada satu hal sederhana yang paling membekas di benaknya, budaya kopi. Pengalaman menikmati kopi lokal menjadi salah satu sorotan utamanya selama di Indonesia.
“Yang tidak akan saya lupakan itu budaya kopi di sini, karena di Amerika kopinya lebih buruk. Di sini lebih kuat!” ujarnya sambil tertawa.
Penilaian gemilang dan kesan mendalam dari para mahasiswa ini, menurut Direktur Program CLS Indonesia, Prof. Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd., adalah buah dari sebuah desain pembelajaran yang dirancang secara cermat untuk imersi total. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan program ini bertumpu pada beberapa pilar utama.
“Program ini kami desain sangat intensif. Salah satu aturan utamanya adalah tidak boleh menggunakan Bahasa Inggris selama pembelajaran,” jelas pria yang juga menjadi Direktur UPT Pusat Studi Bahasa dan Budaya Indonesia (PSBBI) UM itu.
“Yang unik tahun ini, kelas-kelasnya kami beri nama raja-raja dari kerajaan di Indonesia, dengan harapan bahasa anak-anak ini akan cepat maju.”
Kunci keberhasilan lainnya adalah sistem pendukung yang komprehensif. Sebanyak 18 guru berpengalaman dan 40 mitra bahasa dilibatkan untuk mendampingi 20 mahasiswa, menciptakan rasio 2:1 yang ideal untuk praktik.
Selain itu, setiap mahasiswa tinggal bersama orang tua asuh untuk memastikan mereka terbenam dalam bahasa dan budaya Indonesia di luar jam kelas. Program ini juga menjadi wadah praktik bagi mahasiswa BIPA UM yang terlibat langsung.
Prof Gatut berharap dampak program ini jauh melampaui kemampuan berbahasa. “Harapan kami, mereka menjadi keluarga. Walaupun program selesai, hubungan antar pribadi ini akan terus terjalin dan menjembatani persahabatan antara orang Amerika dan Indonesia. Inilah tujuan utamanya.” [dan/aje]






