Ringkasan Berita:
- Kebun melon di Desa Kalipuro, Mojokerto, memanfaatkan live TikTok untuk memasarkan hasil panen.
- Strategi promosi digital tersebut mampu meningkatkan penjualan hingga beberapa ton per hari.
- Pembeli datang dari berbagai daerah, mulai masyarakat umum hingga pedagang.
- Harga melon di kebun lebih murah dibandingkan pasar, mulai Rp6.000 hingga Rp11.000 per kilogram.
Mojokerto (beritajatim.com) – Perkembangan media sosial dimanfaatkan pelaku usaha pertanian untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan penjualan hasil panen. Salah satunya dilakukan pengelola kebun melon di Desa Kalipuro, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, yang sukses menarik banyak pembeli melalui siaran langsung (live streaming) di TikTok.
Strategi pemasaran digital tersebut membuat kebun melon semakin dikenal masyarakat. Informasi mengenai panen buah segar tidak hanya menjangkau warga Mojokerto, tetapi juga menarik pembeli dari berbagai daerah yang datang langsung ke lokasi.
Sejak pagi, kendaraan roda dua maupun roda empat silih berganti memasuki area kebun. Para pengunjung membeli melon yang baru dipanen, baik untuk konsumsi keluarga maupun dijual kembali ke pasar.
Pengelola kebun melon, Arifin, mengatakan promosi melalui TikTok terbukti efektif meningkatkan penjualan. Dalam sehari, hasil panen yang terjual bahkan bisa mencapai beberapa ton.
“Pemasaran kita menggunakan media sosial TikTok, biasanya lewat live,” ungkapnya, Sabtu (13/6/2026).
Melalui siaran langsung, calon pembeli dapat melihat kondisi buah secara langsung sebelum melakukan transaksi. Cara tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperluas jangkauan pemasaran tanpa harus membuka banyak cabang penjualan.
Selain mengandalkan promosi digital, harga yang kompetitif menjadi daya tarik lain bagi pembeli. Arifin menyediakan pilihan pembelian secara ecer maupun paket dengan harga yang disesuaikan berdasarkan ukuran buah.
“Beli paket bisa, ecer juga bisa. Per kilonya harganya beda-beda, ada yang Rp6 ribu, Rp9 ribu, sampai Rp11 ribu, tergantung besar kecilnya. Pembeli di sini rata-rata warga sekitar Mojokerto dan tengkulak-tengkulak untuk dijual kembali ke pasar,” jelasnya.
Salah seorang pembeli, Sumilah (49), mengaku rutin membeli melon langsung di kebun karena kualitas buah yang manis serta harga yang lebih murah dibandingkan di pasar.
“Rasanya manis, enak, harganya juga murah. Saya beli 10 kilogram untuk dibuat es dan dijual lagi,” ujarnya.
Menurut Sumilah, harga melon di pasar bisa mencapai Rp15 ribu per kilogram atau bahkan lebih. Sementara di kebun Desa Kalipuro, harga melon berkisar antara Rp6 ribu hingga Rp11 ribu per kilogram, tergantung ukuran buah.
Keberhasilan memadukan kualitas produk, harga yang bersaing, dan promosi melalui media sosial menjadi bukti bahwa digitalisasi mampu membuka peluang baru bagi sektor pertanian. Dari lahan di pedesaan, hasil panen kini dapat dipasarkan lebih luas hanya melalui siaran langsung di layar ponsel. [tin/beq]






