Surabaya (beritajatim.com) – Herma Retno Prabayanti memaparkan model baru pengelolaan media sosial dalam disertasinya pada Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (17/7/2025).
Disertasi tersebut mengusung judul “Pengembangan Model Manajemen Media Sosial untuk Meningkatkan Brand Image Universitas Negeri Surabaya.”
Melalui penelitiannya, Herma mengembangkan Model Manajemen Media Sosial Unesa, sebuah rancangan sistematis yang dapat digunakan kampus untuk meningkatkan citra institusi, peringkat webometrik, serta menarik minat calon mahasiswa.
“Temuan kami adalah model manajemen media sosial. Jadi nanti ada model baru manajemen media sosial Unesa namanya, yang bisa diimplementasikan di perguruan tinggi,” ujar Herma.
Model ini menekankan pentingnya dukungan kebijakan pimpinan kampus, regulasi internal, dan alokasi anggaran yang jelas untuk mendukung pengelolaan media sosial yang efektif. “Pengelolaan media sosial yang paling sesuai untuk perguruan tinggi adalah yang ada kebijakan dari pimpinan atau rektor,” katanya.
Herma juga menyoroti urgensi lahirnya peraturan rektor (pertor) sebagai dasar kebijakan digital di institusi pendidikan. “Rektor harus punya pertor yang mengikat seluruh jajarannya agar bisa mengelola media sosial secara efektif dan efisien. Kalau tidak ada juklak atau peraturan sama sekali, mereka akan merasa yang bagus A, yang bagus B. Tidak ada indikatornya. Indikator itu harus tertuang di pertor,” jelasnya.
Selain aspek regulasi, anggaran juga disebut sebagai komponen penting. “Nah, pada saat itu sudah tertuang di pertor, turun ke anggaran. Anggaran juga harus jelas, anggaran juga harus mumpuni untuk pengelolaan media sosial yang maksimal,” tegasnya.
Menurut Herma, pengelolaan media sosial di banyak kampus Indonesia masih jauh dari ideal. “Sepengamatan saya media sosial di Indonesia ini masih carut-marut untuk kampus-kampus. Jadi asal yang penting viral, humas yang penting bisa, bahkan ekstrimnya banyak perguruan tinggi yang medsosnya dipegang anak magang atau mahasiswa saja,” katanya.
Ia pun menyayangkan belum adanya perhatian serius dari pimpinan kampus terhadap potensi media sosial sebagai alat strategis untuk branding dan komunikasi institusional.
“Karena manajemen media sosial belum menjadi center issues dari pemangku kebijakan. Nah ini yang menggerakkan saya pengen jadi doktor manajemen pendidikan, khususnya di manajemen media sosial. Karena belum ada orang yang concern, belum ada orang yang merasa bahwa ini urgent,” ujarnya.
Disertasi ini diharapkan bisa menjadi acuan pengembangan kebijakan digital kampus di Indonesia, terutama dalam membangun kepercayaan publik dan memperluas akses informasi.
Herma Retno Prabayanti adalah profesional multidisiplin dengan pengalaman panjang di dunia media dan pendidikan. Lahir di Surabaya, ia memulai karier sebagai jurnalis dan presenter di JTV, Trans7, hingga produser di MetroTV Jawa Timur. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Informasi Jatim (2019–2022).
Aktif sebagai akademisi dan peneliti di bidang media dan komunikasi digital, Herma kini mengajar di Universitas Negeri Surabaya dan menjabat Direktur Branding, Marketing, dan Media Unesa. Selain itu, ia dikenal sebagai konten kreator edukatif dengan lebih dari satu juta pengikut, aktif menyebarkan informasi seputar pendidikan dan parenting. [ipl/kun]






