Jember (beritajatim.com) – Anggota DPRD Kabupaten Jember dari fraksi PAN, Nyoman Aribowo, menguji coba penggunaan Ivermectin untuk mengobati sapi yang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dia menilai kandungan Ivermectin yang pada dasarnya adalah antivirus dapat menyembuhkan sapi yang sakit.
“Ada seekor sapi yang bergejala. Saya minta petugas Dinas Peternakan agar menggunakan Ivermectin, karena prinsip obat ini yang saya tahu mencegah replikasi virus. PMK juga disebabkan virus dan kami berasumsi penanganannya sama (dengan Covid),” kata Nyoman, Rabu (13/7/2022).
Ivermectin memiliki kandungan antivirus namun biasa dipakai untuk pengobatan kecacingan. Obat ini sempat langka lantaran banyak dipakai untuk pengobatan Covid-19 namun akhirnya tidak digunakan lagi setelah muncul studi yang menyatakan Ivermectin tak efektif.
Sebelumnya, 20 ekor sapi Nyoman sempat terkena PMK tiga pekan lalu. “Gejalanya ringan, saya obati pakai jamu tradisional, yakni kunir dan temulawak yang direbus dan diminumkan. Sementara pengobatan luarnya pakai semacam obat semprot. Alhamdulillah sembuh dengan pengobatan tradisional dan obat luar yang disemprotkan dokter. Saya tidak tahu merek obat semprotnya,” kata Nyoman.
Nyoman menyatakan siap sapinya dibuat obyek uji coba untuk pengobatan yang menggunakan Ivermectin. “Mudah-mudahan ada perbaikan. Kalau ada perbaikan, bisa membantu peternak lain, karena obat-obat di pasaran sangat terbatas. Persediaan di Dinas Peternakan juga terbatas. Dibutuhkan alternatif-alternatif pengobatan, baik tradisional maupun medis, sehingga penyakit ini bisa tertangani,” katanya.
“Saya kira secara medis bisa, karena Ivermectin adalah obat parasitosis, dan bisa menurunkan peradangan dan meningkatkan imunitas,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember Andi Prastowo.
Menurut website alodokter, Ivermectin adalah obat antiparasit yang digunakan untuk mengatasi penyakit akibat infeksi cacing, seperti strongyloidiasis dan onchocerciasis. Selain itu, obat ini juga bisa digunakan untuk mengatasi kutu rambut dan mengobati rosacea. Obat ini diduga memiliki efek antiradang dan kemampuan untuk menghambat protein khusus yang diperlukan virus untuk menyerang tubuh.
Menurut data Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember, Selasa (12/7/2022), jumlah total sapi yang sakit mencapai 11.072 ekor. Ada pertambahan 249 ekor sapi sakit kemarin. Sebanyak 64 ekor sapi mati, empat ekor dipotong paksa, dan 100 ekor sembuh.
Nyoman yakin banyak peternak yang tidak melaporkan sapi yang sakit maupun mati, sebagaimana saat pandemi Covid-19. “Banyak yang menangani sendiri semampu dan sebisanya, dan tidak melapor ke Dinas Peternakan,” katanya.
Sebenarnya tingkat kematian ternak akibat PMK ini rendah. “Satu persennya, dan biasanya disebabkan sapi kekurangan makan. Pemeliharaan dan perawatannya oleh peternak kurang. Kalau ditangani dan diobati dengan cepat dan telaten, dan sapi mau makan, banyak yang sudah lolos dari PMK ini,” kata Nyoman. [wir/beq]






