Surabaya (beritajatim.com) – Layanan kesehatan jiwa di Jawa Timur (Jatim) mendapat apresiasi sebagai salah satu yang terbaik secara nasional.
Anggota DPD RI asal Jatim, Lia Istifhama, menilai capaian tersebut menunjukkan komitmen kuat daerah dalam memperluas akses layanan kesehatan mental, meski tantangan di lapangan masih besar, terutama pada kelompok usia anak dan remaja.
Hal tersebut disampaikan saat Rapat Kerja Komite III DPD RI dengan Kementerian Kesehatan RIdi Senayan, Senin (13/4/2026).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sebanyak 27 juta penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Hasilnya, sebanyak 363.326 anak (4,8 persen) terindikasi mengalami gejala depresi, sementara 338.316 anak (4,4 persen) menunjukkan gejala kecemasan.
Angka tersebut lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa maupun lansia. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya tren anak usia 11-17 tahun yang memiliki pikiran hingga percobaan mengakhiri hidup, sebagaimana tercatat dalam data Komisi Perlindungan Anak Indonesia periode 2023-2025.
“Ini menjadi alarm serius agar anak-anak harus mendapatkan perhatian lebih dalam aspek kesehatan mental, bukan hanya fisik,” ujar Ning Lia.
Di tengah tantangan tersebut, perempuan yang juga Keponakan Gubernur Jawa Timur itu mengapresiasi capaian layanan kesehatan jiwa di Jatim. Dari sekitar 6.000 puskesmas di Indonesia, sebanyak 88,22 persen puskesmas di Jatim telah mampu memberikan layanan kesehatan jiwa.
Capaian ini menempatkan Jatim di posisi tiga besar nasional, di bawah DKI Jakarta yang mencapai 97,73 persen dan Gorontalo sebesar 91,58 persen.
“Ini tentu patut diapresiasi. Artinya, layanan kesehatan jiwa sudah semakin dekat dan bisa diakses masyarakat,” tegasnya.
Meski demikian, Ning Lia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi persoalan kesehatan mental, khususnya pada anak.
Ia menyoroti perlunya sinergi antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam membangun aspek kognitif dan psikologis anak.
Menurutnya, pendekatan kontekstual perlu diperkuat agar anak-anak mampu tumbuh dengan rasionalitas yang sehat dan memiliki cita-cita sesuai usia. Ia juga mencontohkan sejumlah kasus anak dengan gangguan belajar yang tetap memiliki mimpi besar, seperti menjadi peretas (hacker), meski menghadapi berbagai keterbatasan.
Selain itu, Putri KH Maskur Hasyim itu menyampaikan pentingnya penguatan fasilitas layanan khusus seperti Child and Adolescent Health Center (CAHC), termasuk yang telah dikembangkan di Rumah Sakit Jiwa Menur. Menurutnya, layanan ini krusial karena tidak banyak rumah sakit yang secara khusus fokus pada kesehatan mental anak akibat stigma sosial yang masih melekat.
Dalam rapat bersama Kemenkes itu, Ning Lia menambahkan, faktor pengasuhan dan konflik keluarga menyumbang sekitar 24 hingga 46 persen terhadap gangguan kesehatan jiwa anak.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, untuk memperkuat peran keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
“Peran orang tua harus benar-benar optimal. Kesehatan mental anak tidak bisa dilepaskan dari lingkungan keluarga,” pungkasnya. (tok/ian)






