Banyuwangi (beritajatim.com) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kreatifitas warga binaan. Salah satunya dengan mendaftarkan hak cipta motif batik karya terbaru, yakni jenis Batik Tukik.
Motif ini tidak hanya menjadi karya seni yang unik, tetapi juga menyimbolkan kearifan lokal Banyuwangi. Dari karya seni yang dihasilkan, di mana salah satu daerahnya dikenal aktif dalam konservasi penyu.
Diketahui, tukik merupakan sebutan untuk anak penyu. Motif tersebut dipilih sebagai inspirasi motif bentuk apresiasi terhadap upaya pelestarian satwa langka tersebut.
Peluncuran motif Batik Tukik juga menjadi spesial karena bertepatan dengan penyambutan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-61. Momen tersebut juga menegaskan bahwa peran Lapas dalam pembinaan dan pemberdayaan warga binaan menjadi hal yang penting.
Kepala Lapas Banyuwangi, Mochamad Mukaffi menyatakan, bahwa motif ini bisa dikatakan edisi terbatas karena desainnya yang eksklusif dan penuh sarat akan makna.
“Ini adalah bukti nyata bahwa warga binaan kami mampu menghasilkan karya bernilai tinggi yang mencerminkan identitas budaya Banyuwangi,” ujarnya.
Menurutnya, Lapas Banyuwangi juga berencana mendaftarkan hak cipta dua motif batik lain yang masih dalam proses penyempurnaan desain. Pendaftaran hak cipta ini bertujuan memberikan perlindungan hukum terhadap hasil karya warga binaan, sekaligus memastikan pengakuan atas kekayaan intelektual yang mereka ciptakan.
Pihaknya mengaku, sejauh ini Lapas Banyuwangi telah memiliki tujuh motif batik yang telah terdaftar hak cipta. Di antaranya Blue Fire Kayu Mati Jeruji, Blue Fire Wayang Jeruji, Bunga Kopi Jeruji, Gandrung Jeruji, Sekar Jagad Wayang Jeruji, Jenon Wayang Jeruji, dan Jenon Seblang Jeruji.
“Keberhasilan ini semakin menegaskan komitmen Lapas Banyuwangi dalam memberdayakan warga binaan melalui pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif,” tuturnya.
Dengan terus melahirkan karya-karya baru, Lapas Banyuwangi berharap dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi pembinaan narapidana, tetapi juga bagi pengenalan kekayaan seni dan budaya Banyuwangi ke kancah nasional maupun internasional.
“Tentu pembinaan ini kami lakukan dengan harapan dapat mengembangkan kemampuan para warga binaan sehingga kedepan memiliki manfaat,” pungkasnya. [alr/aje]






