Pamekasan (beritajatim.com) – Guru Besar Filsafat Ilmu dan Epistemologi Islam UIN Walisongo Semarang, Prof Dr Ilyas Supena berbagi resep cepat menyelesaikan penelitian tesis dan disertasi bagi mahasiswa program magister dan doktoral melalui kegiatan Stadium General dan Kuliah Tamu di Auditorium Pascasarjana UIN Madura, Senin (17/11/2025).
Dalam kegiatan dengan grand tema ‘Filsafat Ilmu dan Epistemologi Islam; Perspektif dan Relevansinya di Era Kontemporer’, Prof Ilyas mengangkat matari khusus dengan sub tema ‘Kajian Islam Interdisipliner dalam Perspektif Filsafat Ilmu dan Implementasinya dalam Penelitian Tesis dan Desertasi’.
“Melalui kesempatan ini kami menghadirkan tokoh dan figur profesional yang ahli dalam bidang filsafat ilmu dan epistemologi Islam, yakni Prof Dr Ilyas Supena untuk berbagi ilmu dan materi bersama mahasiswa program pascasarjana, baik untuk program magister maupun doktoral,” kata Direktur Pascasarjana UIN Madura, Prof Dr Atiqullah.
Bahkan materi yang disampaikan Ilyas Supena, juga diharapkan dapat menjadi pengalaman berharga sekaligus dapat menambah wawasan penting bagi para mahasiswa. “Melalui kesempatan ini kita berharap dapat pengalaman dan keluasan ilmu bagi kita semua, serta mampu mengatasi beragam persoalan keilmuan dalam beragam perspektif,” ungkapnya.
“Oleh karena itu, kami menyampaikan terima kasih kepada narasumber, mudah-mudahan momen ini dapat menjadi jalinan silaturahim yang abadi, karena keabadian itu tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang sedang kita inisiasi bersama,” imbuhnya.
Sementara Ilyas Supena memulai forum dengan kajian awal filsafat ilmu beserta cabang-cabangnya, meliputi ontologi, epistemologi dan aksiologi. “Ontologi menjadi poin penting dalam sebuah penelitian, diawali dengan pertanyaan ‘apa’ dengan komposisi kualitas, kuantitas dan proses,” ungkapnya.
“Dari aspek kualitatif meliputi poin materialisme, spiritualisme dan integralisme. Aspek kuantitas mencakup monoisme, dualisme dan pluralisme. Sedangkan aspek proses meliputi kenyataan yang bersifat tetap, dan kenyataan yang bersifat berubah (dinamis),” imbuhnya.
Poin penting lainnya pada cabang filsafat epistemologi yang mempersoalkan tentang hakikat, sumber atau metode, serta validitas. “Pada poin ini, pertanyaan penting ‘bagaimana’. Hakikat persoalan ditelaah melalui kajian idealisme dan realisme, metode atau sumber bisa melalui rasionalisme, empirisme, wahyu dan Ilham. Sementara validitas mencakup koherensi, korespondensi, pragmatis,” jelasnya.
“Sedangkan aksiologi menitik beratkan pada tata nilai, tujuan dan manfaat. Meliputi objektivisme; di mana semua orang memiliki penilaian yang sama, subjektivisme; tidak semua orang memiliki pandangan yang sama, serta inter-subjektivisme; beberapa orang memiliki pandangan yang sama,” imbuhnya.
Dari pemaparan tersebut, pihaknya juga membagikan trik melalui tiga tabel ontologi, epistemologi dan aksiologi untuk membuat judul. “Contoh ontologi bisa ambil tentang ayat-ayat jihad, epistemologi menggunakan hermeneutika Gademer, dan aksiologi (manfaat) diisi membangun masyarakat Indonesia yang harmoni,” sambung Ilyas Supena.
“Dari tabel ini nantinya dapat dijadikan sebagai judul penting dalam sebuah penelitian; yakni reinterpretasi ayat-ayat jihad dalam perspektif hermeneutika Gademer sebagai upaya membangun masyarakat Indonesia yang harmoni,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ilyas Supena juga menjabarkan detail seputar pendekatan kajian dalam filsafat Islam yang sekaligus menjadi tradisi intelektual Islam dalam melakukan berbagai kajian, meliputi pendekatan bayani, burhani dan Irfani. [pin/kun]






