Jakarta (beritajatim.com) – Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah mengerahkan tim khusus di tiga titik bandara utama untuk mengantisipasi jemaah umrah Indonesia yang berpotensi terlantar (stranded) akibat penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah pada Sabtu (28/2/2026).
Langkah mitigasi ini diambil merespons dinamika keamanan kawasan yang memicu penghentian aktivitas penerbangan di Qatar, Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah.
Meskipun beberapa negara tetangga melakukan penutupan total, otoritas Arab Saudi bersama Oman, Yordania, dan Lebanon dilaporkan masih mengoperasikan penerbangan secara terbatas dengan status waspada.
Pemerintah Indonesia memastikan bahwa situasi di dalam wilayah Arab Saudi saat ini tetap aman dan terkendali, di mana aktivitas umum berjalan normal dengan peningkatan kewaspadaan sesuai standar keamanan yang berlaku.
Guna mencegah penumpukan jemaah di bandara akibat pembatalan atau penyesuaian jadwal mendadak, KUH Jeddah telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam sistem tiga shift.
Para petugas disebar secara strategis di Terminal 1, Terminal 2 (eks Saudia), dan Terminal Haji Bandara Internasional King Abdulaziz untuk memberikan pendampingan langsung kepada jemaah.
“KUH telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam tiga shift dan disebar di tiga titik bandara, yakni Terminal 1, Terminal 2 (eks Saudia), dan Terminal Haji. Langkah ini untuk memastikan pendampingan dan koordinasi berjalan optimal bagi jemaah yang terdampak perubahan jadwal penerbangan,” ujar Staf Teknis Urusan Haji KUH Jeddah, Muhammad Ilham Effendy melalui keterangan resminya.
Selain pengerahan personel lapangan, KUH Jeddah menjalin komunikasi intensif dengan maskapai penerbangan, travel penyelenggara, dan pihak syarikah di Arab Saudi.
“Koordinasi lintas sektor ini bertujuan untuk mencari solusi tercepat bagi jemaah yang tertunda kepulangannya, baik melalui pengaturan ulang jadwal maupun penyediaan fasilitas pendukung selama masa tunggu di bandara,” jelasnya.
KBRI Riyadh turut mengeluarkan imbauan resmi bagi seluruh Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk jemaah umrah asal berbagai wilayah di Jawa Timur yang sedang berada di Tanah Suci, agar tetap tenang dan tidak panik.
WNI diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi melalui kanal komunikasi otoritas setempat serta perwakilan Republik Indonesia untuk menghindari simpang siur berita.
Pemerintah Indonesia melalui perwakilan di Arab Saudi memastikan pemantauan situasi akan terus dilakukan secara real-time guna menjamin keamanan, keselamatan, dan kenyamanan jemaah tetap terjaga.
“Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi di media sosial dan selalu merujuk pada sumber resmi pemerintah terkait perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah,” pungkas Ilham Effendy. [ian/suf]






