Tehran (beritajatim.com) – Dunia internasional dikejutkan dengan kabar duka dari Republik Islam Iran. Media resmi pemerintah, Islamic Republic News Agency (IRNA), mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, telah wafat atau dinyatakan syahid setelah menjadi target serangan pada Sabtu pagi waktu setempat.
Pihak otoritas Tehran menyebutkan bahwa insiden tragis ini terjadi akibat serangan yang dilancarkan oleh rezim Israel dan Amerika Serikat. Kabar ini pun langsung memicu reaksi keras di seluruh kawasan Timur Tengah.
Kronologi dan Pernyataan Resmi
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh IRNA, serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
Pemerintah Iran secara tegas menunjuk keterlibatan pihak asing dalam peristiwa ini.
“Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, telah gugur sebagai martir menyusul serangan yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi,” tulis pernyataan resmi IRNA.
Hingga saat ini, detail mengenai lokasi spesifik serangan maupun jenis persenjataan yang digunakan masih dalam tahap investigasi lebih lanjut oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Masa Berkabung Nasional dan Libur 7 Hari
Menanggapi wafatnya sang pemimpin, Kabinet Iran segera melakukan pertemuan darurat. Sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap figur yang telah memimpin Iran sejak 1989 tersebut, pemerintah menetapkan status keadaan berkabung dalam skala besar.
Berikut adalah poin-poin keputusan pemerintah Iran:
Masa Berkabung Umum: Ditetapkan selama 40 hari di seluruh penjuru negeri.
*Libur Nasional: Pemerintah memberikan hari libur resmi selama 7 hari berturut-turut untuk memberikan kesempatan bagi rakyat Iran mengikuti prosesi pemakaman dan penghormatan.
Bendera Setengah Tiang: Seluruh kantor pemerintahan dan kedutaan besar Iran di luar negeri diperintahkan mengibarkan bendera setengah tiang.
Dampak Geopolitik
Kehilangan Ayatollah Khamenei diprediksi akan mengubah peta stabilitas di kawasan. Sebagai otoritas tertinggi dalam urusan agama dan politik di Iran, sosoknya memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan luar negeri Iran, terutama terkait program nuklir dan dukungan terhadap kelompok-kelompok perlawanan di kawasan.
Pasar energi global dilaporkan mulai bereaksi terhadap ketidakpastian ini, dengan fluktuasi harga minyak yang dipantau ketat oleh para analis ekonomi. (ted)






