Krisis bahan bakar minyak di Kabupaten Jember, Jawa Timur, melipatgandakan ujian Arba Bradjamanastha Asmoro sebagai mahasiswa tahun terakhir jurusan Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.
Dua hari menjelang ujian skripsi, Arba direpotkan dengan urusan BBM di tangki sepeda motornya yang makin tipis. Sejak Sabtu (26/7/2025), dia berkeliling ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) berburu BBM. Ada tangki tiga sepeda motor yang harus diisinya di rumah.
Minggu keesokan harinya, perburuan BBM berlanjut. Kesialan berlanjut. Antre sejak pukul 20.30 WIB hingga pukul tiga dini hari, Senin (28/7/2025), di SPBU dekat Pasar Tegalbesar, Jalan Letjen Basuki Rahmat, harapannya hancur dalam jarak sepuluh baris dari mesin pengisi BBM.
Stok BBM sudah habis.
Perasaan Arba campur aduk. Marah. Kecewa. Namun dia sadar: tak elok menumpahkan amarah kepada petugas SPBU yang juga lelah.
Arba pulang dengan BBM yang menipis. Lima kilometer dari rumahnya di Jalan Cadika, Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates, sepeda motornya mogok. Beruntung dia bersama sahabatnya dari kecil, M. Arul, yang membantu untuk mendorong sepeda motor itu hingga rumah.
Tak ada banyak waktu untuknya beristirahat. Senin siang, dia sudah harus ke kampus untuk membereskan administrasi jelang ujian skripsi.
Namun mau naik apa ke kampus yang berjarak 8,6 kilometer dari rumahnya? Di tengah krisis BBM, susah untuk berharap pada kendaraan umum. Maka tak ada cara lain: sepeda kayuh milik Arul.
“Rul, tak gawe sepedane (saya pakai sepedamu). Kepepet,” kata Arba kepada Arul.
Arba bukan atlet. Tubuhnya kelelahan. Berangkat pukul 11.30 WIB di tengah terik matahari, butuh waktu satu jam untuk sampai di kampus.
Urusan berkas skripsi beres. Arba pulang dengan hati lega. “Tapi pulang lebih capek, karena rutenya harus melewati jalan menanjak,” katanya.
Persoalan belum selesai. Arba harus menempuh ujian skripsi. Selasa (29/7/2025). Masa hendak mengayuh sepeda lagi? Ia tak bisa membayangkan penat yang bakal dialaminya di tengah momentum terpenting dalam fase kuliah.
Namun syukurlah. Arul pulang dengan membawa beberapa liter BBM. Sebagian diisikan ke tangki sepeda motor Arba. Pria kelahiran 16 April 2003 ini akhirnya bisa berangkat ke kampus tanpa kelelahan.
Ujian selesai. Dia lulus.
Muhammad Iqbal, dosen pengujinya, tertawa mendengar cerita Arba. Dia merasakan apa yang dirasakan mahasiswanya. Selasa pagi beberapa jam sebelum menguji Arba, dia masih sempat antre BBM di Baratan, Kelurahan Patrang.
Kini keinginan terdekat Arba hanya satu. “Semoga krisis BBM ini segera berakhir.” [wir]






