Pada pagi itu terlihat beberapa orang tua dan muda sedang asik duduk di teras rumah kecil Bu Lestari dengan canting dan lembaran kain premisima putihnya. Mereka sedikit bercanda sambil bekerja membatik mengikuti pola yang sudah di-blat di kain tersebut. Tentu jangan dipikir ini usaha yang dilakukan oleh Bu Lestari dengan kawan-kawannya ini usaha yang sekedar main-main. Berangkat dengan modal keberanian untuk membantu suami meningkatkan penghasilan keluarga.
Kebetulan suami Bu Lestari adalah perangkat desa di Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember yaitu bapak Imam Syafii. Sebuah konsistensi usaha kecil yang tetap berjuang menjaga ujung tradisi yang mulai memudar. UMKM batik milik Bu Lestari ini dinamakan Rezti’s Batik, yang konon adalah nama dari salah satu anaknya. Suami-istri yang dikaruniani dua puteri ini berjibaku dengan usaha kecil batiknya dengan meyakini bahwa ada asa di masa depan. Pengrajin batik ini telah bertahun-tahun menekuni dunia ini, menghadapi tantangan berat.
Sementara Jember yang identik dengan penghasil tembakau, namun ternyata juga mengembangkan Batik khasnya sendiri cukup marak, terlebih upaya mencari salah satu identitas dari kabupaten ini daerah yang ikonik. Tidak dapat dipungkiri bahwasannya batik Jember masih harus berjuang untuk dikenal sebagaimana dengan batik-batik lainnya yang ada di pulau Jawa.
Motif batik Jember sangat terinspirasi unsur kedaerahan yang berbasis sumber daya alam yang ada di Kabupaten Jember, yaitu seperti kakao, tembakau, kopi, bambu. Namun mayoritas pilihan motif batik khas Jember sangat kental adalah motif daun tembakau mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar. Motif ini selalu menjadi komponen utama dalam membuat motif-motif batik Jember dan kecenderungan pada motif komtemporer. Artinya corak dan pola dan serta motifnya tidak lagi mengikuti tata aturan motif batik seperti pada motif batik Solo, batik Jogja maupun batik Pekalongan yang menjadi pakem batik nasional. Momentum maraknya batik lokal kedaerahan dimanfaatkan dan eksplorasi dengan baik.
Pelan tapi pasti usaha, omset dan permintaan batik lokal terus ada. Ada trade mark yang dimiliki, pola dan desain kelokalan Jember menjadi andalan usaha batiknya. Usaha yang dimulai dari nol baik pengetahuan tentang batik dan usaha pemasarannya tidak menyurutkan Batik Rezti’s ini untuk belajar dan belajar. Tidak malu dan lelah untuk menimba ilmu dari para ahli Batik baik dari cara membatik dan pengolahannya hingga pola yang memiliki animo tinggi di pasaran.
Usaha Batik Rezti’s yang ditekuni suami istri ini menjadikan motivasi bagi banyak pengrajin di daerah Ambulu Jember. Dengan konsistensi membangun usaha rumahan batik ini, selain mengembangkan warisan leluhur tak benda yaitu Batik dan juga mampu memberi penghidupan bagi tenaga kerjanya. Sampai hari ini Rezti’s Batik memiliki karyawan yang didominasi kaum perempuan.
Uniknya, pekerjanya adalah mayoritas ibu rumah tangga dan mereka bekerja jika pekerjaan rumah selesai. Bagi karyawan dengan bekerja sebagai pembatik ini rata-rata merasa terbantu walaupun penghasilannya belum besar. Namun sudah bisa membantu pendapatan rumah tangga mereka. Yang spesial bagi Bu Lestari pemilik Rezti’s Batik ini yaitu mempekerjakan dua pekerja pria yang penyandang disabilitas dengan keterbatasan kesulitan komunikasi.
Pendidikan adalah prioritas, maka obsesi suami istri pengrajin Batik Rezti’s yang menjadi kenyataan adalah mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Putri pertamanya selesai menimba ilmu sampai jenjang S2 dan yang kedua masih S1 disalah satu PTN di Jawa Timur. Keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah derajat seseorang maka mereka juga memberi beasiswa kuliah bagi karyawannya sebagai penghargaan.
Pengrajin Rezti’s Batik ini cukup bersemangat menjalin mitra untuk kemajuan usahanya. Saking getolnya mengembangkan usahanya bahkan menjadi salah satu penerima manfaat dari Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember. Program yang dilakukan meliputi pelatihan model bisnis UMKM hijau, capacity building fashion design, serta lomba UMKM Jawa Timur Berprestasi pada tahun 2024.
Bank Indonesia juga memberikan dukungan berupa capacity building UMKM Jatim Go Export dan bantuan sarana serta prasarana pembuatan batik pada tahun 2023. Pada tahun 2024, asosiasi ini menerima bantuan sarana pemasaran berupa gawangan, rak lemari, dan meja desain batik. Program-program ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis dan manajerial pelaku usaha tetapi juga membuka peluang ekspor untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Perjalanan Rezti’s Batik menemukan momentumnya tatkala beberapa kali meraih penghargaan. Paling tidak penghargaan yang telah diterima Batik Rezti’s yaitu juara pertama lomba desain logo batik Jember (2020), penghargaan UMKM ramah disabilitas (2020), penghargaan Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian RI (2021), juara II UKM Jatim berprestasi (2024), finalis (nasional) Lomba Proposal Bisnis dalam UMKM Week Pekan Raya Bea Cukai (2024).
Menariknya Batik Rezti’s berusaha untuk tidak maju sendirian. Berangkat dari susahnya memasarkan dan juga sulitnya mendapat pengrajin. Maka ikhitiar untuk untuk mengumpulkan pengrajin-pengrajin batik yang masih berjuang sendiri-sendiri di Kecamatan Ambulu. Berangkat untuk maju bersama akhirnya dirangkai dalam Asosiasi Pembatik Ambulu dengan kurang lebih delapan (8) pengrajin batik. Mereka berserikat untuk membangun usaha dengan lebih baik. Bersama asosiasi pembatik Ambulu ini, perjalanan pengrajin batik in berhasil mengandeng instansi-instansi untuk kemajuan pengrajin semakin tampak.
Kegiatan Tri Dharma Pengabdian Kepada Masyarakat oleh perguruan tinggi disekitar Jember ikut menyemanggati perjalanan pengrajin Batik. Universitas Jember misalnya, dengan intensitas yang relatif masif mengarahkan program pengabdian masyarakat ke Batik Rezti’s dan Asosiasi Pembatik Ambulu. Mulai dari program digitalisasi pemasaran, pengolahan limbah batik hingga pembentukan Koperasi Produksi batik. Dimotori oleh Rezti’s Batik dengan 7 anggota yang lain berdirilah Koperasi Labako Jaya Makmur pada tahun 2022 lalu.
Akhir rangkaian cerita pengrajin batik di kecamatan ujung selatan Jember ini adalah kemampuannya merenda naik-turunnya tantangan usaha dengan mampu menyakinkan banyak pihak termasuk BI Kantor Perwakilan Jember yang sesuai dengan kepedulian kepada UMKM lokal di Jember memberi pembinaan. Pengrajin Reztis Batik ini memberi keyakinan bahwa usaha kecilnya akan naik kelas dan berkembang di masa depan dengan pembinaan secara terarah melalui Program Sosial Bank Indonesia.
Di sini sepertinya Bank Indonesia juga meneguhkan keberadaannya yaitu hadir di setiap makna negeri. Sementara, Bu Lestari dengan tegas merucap selama saya dan teman-teman pengrajin batik masih bisa menggenggam canting, kami akan terus menjaga warisan leluhur ini. [wir]
Dr. Ciplis Gema Qori’ah, SE, MSc. adalah dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.






